Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Trik Agar Gila Membaca | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd

Sebelum membahas lebih jauh bagaimana cara agar kita bisa menjadi kutu buku, saya ingin kita merenungi firman Allah swt dibawah ini yang artinya : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya .” (Q.s At-Taubah : 122) Melalui ayat di atas Allah swt telah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman bahwa tidak semestinya kita terjun ke medan perang semuanya. Sebab, ada jalan lain yang bisa kita lakukan dalam rangka berjihad di jalan Allah swt. Yakni, memperdalam ilmu pengetahuan. Apa tujuannya? Agar dengan ilmu tersebut kita bisa memberikan peringatan kepada umat manusia (berdakwah) dan untuk menjaga diri kita agar lebih bijak dalam menentukan sikap dalam mengarungi kehidupan ini.

Menarik! Inilah Usulan Wasril Tanjung Untuk Pendidikan di Kota Jambi

Dinas pendidikan kota jambi selalu berupaya untuk menghasilkan generasi muda jambi yang berkarakter. Berbagai program telah diterapkan agar mimpi ini dapat terwujud. Apalagi sekarang pemerintah sedang membuka lowongan kerja untuk guru tahfidz. Hal ini bertujuan agar dapat menghasilkan siswa yang tidak sekedar cerdas pengetahuan sains dan matematikanya, tetapi   juga hapalan Al-Qur’annya. Menurut saya ini adalah langkah yang sudah baik. Tetapi, ada hal lain yang harus dilakukan oleh pemerintah agar dapat menghasilkan siswa berkarakter yang dibungkus dengan nilai-nilai islam. Yakni, dengan membuka lowongan untuk guru pembinaan karakter siswa. Tugasnya hanya fokus untuk pembentukan kepribadian. Aktivitasnya bukan didalam kelas, tetapi di musholla sekolah atau di tempat lain yang memungkinkan.

Politik : Kawasan Dilarang Menggunakan Agama? | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd

Ruang lingkup bagi para orientalis dan westernisasi menjadi luas. Sedangkan suara para penyeru kebenaran menjadi sempit. Keteguhan dalam beragama dianggap tindakan ekstrem dan penyebar teror. Adapun keluar dari agama adalah tindakan moderat. Bahkan sebagian dari kita meminta bantuan kepada orang-orang kafir dan musuh agama dalam memerangi saudara-saudaranya sendiri.

Berdayakan Pemuda! Karena Mereka Adalah Energi Baru | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd

Pada pertandingan sepakbola, ketika ada pemain yang tidak bertenaga lagi, atau ada pemain yang cedera, atau ada pemain yang tidak mampu lagi menunjukkan performa permainan yang baik, maka pelatih akan mengambil keputusan untuk segera mengganti pemain tersebut. Jika pelatih tidak mengambil keputusan dengan segera, maka kemenangan akan sulit untuk diraih. Begitu pula dengan negeri ini. Jika pemimpinnya belum bisa menunjukkan performa terbaiknya untuk negeri ini, barangkali pemimpin tersebut harus segera diganti dengan pemimpin baru yang lebih bertenaga. Pada tulisan kali ini saya mengklaim bahwa energi baru itu adalah PEMUDA.

Dari Presiden Mahasiswa Menuju Anggota DPRD | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd

Kampus seperti miniatur sebuah negara. Didalamnya terdapat lembaga eksekutif dan lembaga legislatif mahasiswa. Lembaga ekskutif mahasiswa dipimpin oleh presiden mahasiswa atau presiden BEM yang dipilih langsung melalui pemilihan umum mahasiswa. Calon presiden & wakil presiden BEM yang bertarung pada pemilihan umum mahasiswa diusung oleh partai mahasiswa. Persis dengan pemilu di negeri ini. Itulah sebabnya kampus seringkali disebut sebagai miniatur negara.

Generasi Milenial & Pesta Politik Tahun 2019 | Oleh : Wasril Tanjung

Tahun 2019 merupakan tahun penting bagi para politisi di Indonesia. Tepat di tanggal 17 April 2019, akan ada pertarungan politik untuk memperebutkan posisi presiden, anggota DPR, dan anggota DPD. Para tokoh publik yang selama ini hadir memberikan kontribusi di level organisasi kemasyarakatan atau lembaga lainnya, akan mengusulkan diri dan bahkan ada juga yang namanya diusulkan oleh partai politik untuk maju sebagai wakil rakyat. Seiring dengan berkembangnya peradaban, maka di tahun 2019 nanti akan ada yang berbeda. Dimana nantinya para politisi yang akan bertarung di pesta politik 2019 mayoritasnya berasal dari generasi milenial.

Gurunya Generasi Z | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd

Kids zaman now adalah mereka yang tergolong pada kelompok generasi Z.  Generasi Z  sering juga disebut dengan generasi digital. Mereka adalah pengguna aktif teknologi digital. Mereka aktif di dunia maya dan waktu bermainnya lebih sering bersama gawai (gadget/HP/android). Mereka mengetahui banyak hal tentang program-program yang terdapat di laptop/komputer dan pandai mengoperasikannya. Dalam pemanfaatan teknologi, gurunya bahkan kalah saing dengan siswanya. Inilah tantangan gurunya generasi Z. 

Pemuda Bermental "Driver Nation" | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd

Pemuda Bermental "Driver Nation"   Pemuda bermental driver adalah mereka yang memilih untuk menggerakkan dan membawa orang lain untuk mencapai tujuan. Bedanya, kalo pemuda bermental passenger adalah mereka yang memilih untuk duduk diam saja mengikuti alur yang dibawa oleh driver . Mereka bisa tenang-tenang saja, sementara pemuda driver menghadapi banyak resiko kehidupan. Dalam perjalanannya, pemuda bermental driver selalu memikirkan strategi agar passenger selamat sampai tujuan. Mereka tidak boleh ngantuk ataupun tidur, sementara passenger boleh santai dan tidur-tiduran. Jadi,  driver nation adalah mereka yang berpartisipasi aktif dalam menghadirkan kebaikan dan perubahan besar dalam kehidupan ini.

Pendidikan Bukan Sekedar Untuk Melatih Ingatan, Tetapi Kemampuan Berfikir | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd

Manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah swt yang dianugerahi kemampuan untuk berfikir. Saat kecil, otak kita belum mengetahui banyak hal. Lalu di perjalanan mengarungi kehidupan, kita pun mengamati hal-hal baru di sekitar kita yang akhirnya lama-kelamaan otak kita pun menampung banyak informasi yang akhirnya memicu kita untuk menelaah lebih jauh agar dapat mengetahui hal-hal baru lainnya. Di saat itulah kualitas otak kita semakin meningkat dan kemampuan berfikir semakin berkualitas. Sebagai dampaknya, kita pun cenderung akan melakukan hal-hal yang besar untuk mencapai kehidupan yang layak berdasarkan kualitas pemikiran kita. 

Belajar untuk Mengajarkan | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd

Jawaban yang seringkali kita dengar atas pertanyaan "Apa sih tujuan kita belajar?" adalah agar kita menjadi pintar. Namun, sebenarnya tujuan yang lebih mulia dari sekedar menjadi pintar adalah ingin melakukan perubahan dalam kehidupan ini. Salah satu wujud perubahan yang dapat dilakukan setelah belajar adalah mengajarkan kepada sebanyak-banyaknya orang atas ilmu-ilmu yang telah kita dapati. Mengajarkan ilmu yang telah didapatkan kepada orang lain hanyalah salah satu aktivitas setelah belajar. Cara lain yang dapat dilakukan setelah belajar adalah melakukan inovasi untuk kehidupan ini. Namun, jika hanya berinovasi tanpa ada aktivitas mengajarkan kepada orang lain atas apa yang telah dilakukan, maka regenerasi inovator akan terhenti. Kita tidak akan bisa lagi menemukan inovator-inovator lainnya. Namun jika kita mengajarkan kepada orang lain, maka akan bermunculan para inovator lainnya.

Politisi Muda Hadirkan Inovasi Baru | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd

GenZ.id - Sejarah membuktikan bahwa para pemuda telah banyak memberikan perubahan pada bangsa.  Diproklamirkannya kemerdekaan republik indonesia oleh bung karno merupakan salah satu desakan yang diajukan oleh para pemuda. Dimana pada saat itu generasi tua masih merasa bahwa belum waktunya Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, sementara anak muda yang jiwanya begitu berani dan membara mendesak generasi tua untuk bersegera memproklamirkan kemerdekaan.  Karena keragu-raguan yang diperlihatkan oleh orang tua, akhirnya terjadilah peristiwa "penculikan" soekarno oleh anak muda agar ia tetap memproklamirkan kemerdekaan negara Indonesia. Karena terus didesak oleh anak muda, akhirnya bung karno pun setuju untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Pada waktu lain, di saat negeri ini tengah diambang kehancuran, para pejabat negara merajalela melakukan kolusi, korupsi dan nepotisme, harga barang di pasar meningkat, nilai rupiah anjlok, rakyat miskin semakin menjerit, lalu ak...

Sekolah Mencetak Para Ahli | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd

Ketika menjelang hasil kelulusan SMA diumumkan, saya sering bertanya kepada para siswa “rencananya setelah lulus mau kuliah dimana?”. Ada beberapa siswa yang dengan tegas menyatakan bahwa ia akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi mengambil jurusan kedokteran, keguruan, hukum, dan sebagainya. Namun, ada pula beberapa siswa yang masih kebingungan ingin melanjutkan studi di jurusan apa. Dari sini saya mendapatkan kesimpulan bahwasanya tidak semua siswa memahami potensi yang dimilikinya. Ia belum bisa menjawab “saya ahli di bidang apa?” atau “kemana arah hidup saya?” Hal ini sangat disayangkan. Sebab, mereka yang belum mengetahui potensi dirinya berarti selama di sekolah sedang menjalani aktivitas yang tidak menggairahkan. Hanya mengikuti alur dan mempercayai semboyan “pasti suatu saat nanti akan ada jalan sukses”.

Fenomena Ulama Dijadikan Tersangka | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd

Beberapa pekan terakhir ini saya fokus membaca buku memoar Sayyid Quthb. Ia merupakan salah satu ulama besar di masanya (tahun 1906-1966). Gagasannya sangat berpengaruh dan sering dipublikasikan di media massa. Banyak buku yang telah ditulisnya dan ratusan artikel telah ditulisnya untuk menyebarkan dakwahnya. Karya besarnya adalah tafsir “Fii Zilalil Qur’an” (Di bawah naungan AL-Qur’an). Ulama ini dihukum gantung oleh rezim Jamal Abdul Nasir. Kondisinya lebih kurang sayup-sayup sama seperti kondisi islam saat ini di Indonesia. Para ulama dicari-cari kesalahannya agar bisa menjadi tersangka. Lalu dieksekusi! Sasarannya adalah ulama yang gencar untuk melakukan pergerakan islam. Sehingga, muncullah semangat juang kaum muslimin untuk menegakkan syariat islam.