Dinas pendidikan kota jambi
selalu berupaya untuk menghasilkan generasi muda jambi yang berkarakter.
Berbagai program telah diterapkan agar mimpi ini dapat terwujud. Apalagi sekarang pemerintah sedang membuka lowongan kerja untuk guru tahfidz.
Hal ini bertujuan agar dapat menghasilkan siswa yang tidak sekedar cerdas
pengetahuan sains dan matematikanya, tetapi
juga hapalan Al-Qur’annya. Menurut saya ini adalah langkah yang sudah
baik. Tetapi, ada hal lain yang harus dilakukan oleh pemerintah agar dapat
menghasilkan siswa berkarakter yang dibungkus dengan nilai-nilai islam. Yakni,
dengan membuka lowongan untuk guru pembinaan karakter
siswa. Tugasnya hanya fokus untuk pembentukan kepribadian. Aktivitasnya bukan
didalam kelas, tetapi di musholla sekolah atau di tempat lain yang
memungkinkan.
Sebagai contoh, di sekolah islam
terpadu Nurul ‘Ilmi Jambi, para guru tugasnya bukan sekedar menjadi pendidik.
Tetapi juga membina karakter siswa. Sekolah yang menjadi sekolah rujukan
tingkat nasional ini menjadi unggul dan diminati oleh masyarakat adalah karena
sistem di sekolah ini lebih menekankan pada pembentukan kepribadian. Sepekan
sekali, para siswa dikumpulkan berkelompok-kelompok dan para guru memberikan
materi keagamaan dan mengevaluasi aktivitas ibadah mereka per pekan. Lalu,
dilakukan tindak lanjut bagi siswa yang ibadahnya masih belum sempurna.
Kegiatan ini rutin dilakukan, dan akhirnya terjadi perubahan karakter siswa per
pekannya.
Sekolah negeri di kota Jambi sebaiknya
dapat meniru sistem yang diterapkan oleh sekolah islam terpadu Nurul ‘Ilmi ini.
Jika di Nurul ‘Ilmi seluruh guru lah yang wajib melakukan pembinaan karakter
secara khusus, maka di sekolah negeri harus dipersiapkan beberapa guru yang hanya
fokus untuk melakukan pembentukan karakter siswa.
Sebenarnya semua guru di sekolah
negeri juga bisa. Namun, tidak semua guru suhunya sama. Kecuali jika telah
dibina sejak dini seperti yang telah dilakukan oleh SIT Nurul ‘Ilmi Jambi. Dimana
seluruh gurunya diwajibkan untuk mengikuti pembinaan kepribadian setiap minggunya dalam
bentuk kajian agama. Muatan materi yang disampaikan adalah tentang
risalah-risalah pergerakan islam. Sehingga, para guru akan memiliki jiwa juang
yang besar untuk beramar ma’ruf nahi mungkar demi membangun peradaban islam. Mereka dibentuk menjadi guru yang bukan sekedar untuk mendapatkan gaji bulanan, tetapi pahala besar dari Allah swt.
Jika saya terpilih menjadi
anggota DPRD Kota Jambi, saya akan mengusulkan agar pemerintah membuka
lowongan penerimaan guru pembina karakter. Tugasnya hanya fokus untuk membentuk
karakter siswa dengan berlandaskan nilai-nilai agama. Apa bedanya dengan
guru PAI? Jika guru PAI (Pendidikan Agama Islam) orientasinya lebih kepada memberikan
pengetahuan umum tentang agama kepada siswa sesuai dengan SK & KD yang
telah ditetapkan oleh pemerintah. Sementara guru pembina karakter orientasinya
adalah untuk membiasakan siswa dalam menjalankan nilai-nilai islam dalam
kehidupan sehari-hari. Guru PAI tidak punya waktu yang cukup untuk melakukannya. Karena mereka fokus untuk mengejar target bahwa materi pembelajaran harus selesai semuanya. Sementara guru pembina karakter targetnya adalah pembiasaan siswa pada nilai-nilai islam. Siswa yang telah terbiasa, maka akan naik tingkat pada level berikutnya. Dan seterusnya.
Sebagai contoh, guru pembina
karakter tugasnya mengevaluasi aktivitas siswa dalam sholat berjamaah, puasa
sunnah, tahajjud, membaca Al-Qur’an, dan sebagainya. Tugasnya lebih banyak pada
teknis di lapangan. Sebab, sejauh pengamatan saya, selama ini guru-guru di
sekolah negeri hampir tidak pernah mengevaluasi aktivitas ibadah wajib dan
sunnah siswa selama di rumah. Sementara di Nurul ‘Ilmi, para gurunya setiap
hari mengevaluasi aktivitas ibadah siswa. Mereka yang tidak sesuai target yang telah
ditetapkan, akan diberikan sanksi berupa membaca Al-Qur’an atau menghapal
Al-Qur’an beberapa ayat. Itulah mengapa siswa-siswi Nurul ‘Ilmi mayoritasnya sudah
terbiasa dengan sholat berjamaah, puasa sunnah, tahajjud, dan ibadah-ibadah
sunnah lainnya. Karena setiap hari mereka dievaluasi oleh gurunya.
Sekali lagi saya tekankan bahwa
pengetahuan tidak sama dengan pembiasaan. Jambi membutuhkan guru yang dapat
mewujudkan siswa yang terbiasa dengan nilai-nilai karakter islam. Bukan sekedar
menambah pengetahuannya saja. Banyak siswa yang sudah tahu, tetapi belum terbiasa melaksanakannya. Disinilah letak kesalahannya. Dan ini harus diubah. Maka, yang dapat melakukan ini bukanlah guru biasa. Tetapi
guru yang berjiwa murobbi atau guru khusus yang tugasnya hanya membina
karakter. Mengenai teknis detailnya akan saya jelaskan kepada dinas yang terkait
ketika saya sudah memiliki hak untuk mengusulkan kepada pemerintah. Oleh karena
itu, mari bersama-sama kita satukan tekad untuk mewujudkannya.
Di atas adalah salah satu usulan saya. Akan ada lagi usulan lainnya terkait pendidikan. Insya Allah akan saya tulis di lain waktu. Bagi yang berdomisili di kecamatan Alam Barajo, di Tahun 2019 nanti pilih saya Wasril Tanjung, S.Pd caleg nomor urut 3 dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai anggota DPRD Kota Jambi. Pantau aktivitas saya di media sosial instagram (@wasriltanjung) dan facebook (Wasril Tanjung). Silahkan berikan masukan kepada saya agar impian ini dapat kita wujudkan bersama. Islam harus berjaya di negeri ini. Jangan sampai generasi muda kita jauh dari nilai-nilai agama. Karena nanti dikhawatirkan merekalah yang justru nanti akan memusuhinya agamanya sendiri. Na'udzubillahi min dzalik...
Komentar
Posting Komentar