Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

Ketika Penghargaan Hanya Untuk Siswa yang Pintar

Sebelum pembahasan ini dimulai, penulis ingin mengajak pembaca menjawab pertanyaan berikut. Tidak perlu mencari data yang akurat. Cukup menurut perkiraan saja. Pertanyaannya adalah manakah yang lebih banyak jumlahnya antara wali murid yang memberikan les tambahan untuk anaknya mempelajari pelajaran matematika, bahasa inggris, fisika dan kimia, atau yang memberikan les tambahan untuk mempelajari agama (budi pekerti)? 

Guru vs Game Online

Di era modern saat ini, persaingan untuk mempengaruhi orang banyak semakin ketat. Siapa yang paling mampu memberikan yang terbaik, maka ia akan lebih banyak disukai. Bahkan akan memungkinkan terjadi, bahwa hal-hal yang penting namun tidak menarik menjadi kalah saing. Sedangkan hal yang tidak penting namun menarik akan berkuasa. Akibatnya, kualitas bisa saja menjadi hal yang tidak terlalu penting. Karena, sudah terkecoh dengan penampilan luar. Oleh karena itu, jika ingin mendapat perhatian lebih dari orang banyak, sehingga mampu mempengaruhi mereka, maka harus memiliki kemampuan berfikir dan bertindak kreatif. Agar hal yang dihasilkan merupakan hal yang baru dan lebih menarik.

Pemimpin Itu : Cair Bergaul, Tegas Menegakkan Aturan

Pada suatu malam, Umar bin Khattab ditemani oleh Aslam berkunjung ke sebuah perkampungan kecil. Dalam perjalanannya, mereka mendengar isak tangis anak kecil di salah satu gubuk yang ada di perkampungan tersebut. Umar bin Khattab pun penasaran mengapa anak tersebut menangis. Lalu, mereka pun mengunjungi rumah tersebut.  Singkat cerita, mereka pun mengetahui alasan yang membuat anak tersebut menangis. Yakni, karena kelaparan. Untuk mereda tangisan anaknya, orangtua tersebut berpura-pura memasak agar anaknya tidak menangis lagi. Padahal, yang dimasaknya hanyalah air yang berisi beberapa butir batu.

Kualitas Siswa Dievaluasi Secara Berkala, Sedangkan Kualitas Guru?

Pendidikan kita saat ini seringkali hanya memfokuskan perhatiannya pada evaluasi kualitas siswanya. Padahal, ada objek lain yang mesti dijadikan pusat perhatian, yaitu evaluasi kualitas guru. Guru tidak hanya bertindak sebagai pengajar, namun juga sebagai pendidik. Guru adalah tempat siswa mendapatkan hal-hal baru dan sekaligus merupakan objek yang akan ditiru oleh siswa. Jika gurunya belum berkualitas, maka tentunya ilmu yang hendak ditransfer pada siswa pun tidak terlalu banyak. Jika gurunya tidak memberikan teladan kepada siswanya, maka bagaimana mungkin siswa mau mengikuti apa yang diperintahkan oleh guru. Oleh karena itu, salah satu faktor keberhasilan proses belajar mengajar adalah tingginya kualitas guru.

Mengaplikasikan Sila Ketuhanan yang Maha Esa dalam Bernegara

Pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar Sidik, Umar bin Khattab pernah diberi amanah memegang jabatan qodhi (ketua jaksa agung). Namun suatu hari, Umar mendatangi Abu Bakar Sidik untuk menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan qodhi . “Ya Amirul Mukminin, Aku ingin mengundurkan diri dari jabatan Qodhi. Terimalah permohonanku ini” ucap Umar

Butiran Mutiara (Salah Satu Karya Peserta Saat Sayembara Cerpen Motifisika 2014)

       Siang yang sangat terik menjadi hari pertama gadis mungil itu menginjakkan kakinya di suatu universitas terkenal di kotanya. Ia sangat bangga bisa lulus tes Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Karena kesempatan itu hanya orang-orang tertentulah yang bisa mendapatkannya. Ia tak mau membuang waktu untuk memikirkan apakah jurusan tersebut cocok atau tidak dengan kemampuannya. Keyakinan penuh di dalam hatinya adalah bahwa orang yang serius dan focus menjalani suatu hal maka akan sukses.   Gadis itu bernama Tia. Usianya saat itu adalah 18 tahun. Hari-hari dilalulinya dengan ceria dan penuh semangat. Karena yang ada dalam fikirannya adalah membahagiakan kedua orang tuanya dengan prestasi,prestasi,dan prestasi. Hanya itu yang ada di benaknya. Meskipun saat menjalani perkuliahan berkali kali ia mendapatkan tekanan yang begitu menyakitkan bagi dirinya. Namun, ia tak mudah putus asa. Karena baginya tekanan itu ibarat sebuah pega...

Menyikapi Arus Perkembangan Zaman

Jika kita hendak berangkat menuju ke suatu tempat, hal utama yang mesti dipertimbangkan sebelumnya ialah berbagai kemungkinan halangan yang akan menimpa serta tantangan yang dapat menghambat perjalanan kita. Agar tantangan tersebut tidak menjadikan kita terhenti atau terseret pada arus yang membuat kita tak sampai pada tujuan, maka kita harus mampu menkonversikan tantangan tersebut menjadi sebuah peluang emas yang jika digunakan maka akan mempercepat kita untuk mencapai tujuan. 

Teknik Pendidikan Karakter yang Tidak Tepat

Salah satu club sepakbola di indonesia mengadakan pelatihan untuk pemain sepakbola. Club tersebut memuat sebuah iklan poster yang berisi :  “Mari ikuti pelatihan sepakbola bersama kami. Hanya dalam waktu 7 hari, Anda akan mendapatkan teknik-teknik permainan sepakbola paling modern dan terbaru dari dalam dan luar negeri. Gratisss” Mengetahui akan ada pelatihan sepakbola gratis, banyak orang yang tertarik untuk mengikutinya. Wajar saja banyak yang ikut, karena sangat sulit menemui moment seperti ini yang mau menyediakan pelatihan teknik bermain sepakbola era modern dengan gratis hanya dalam waktu 7 hari. Sehingga dalam waktu 5 hari, yang sudah mendaftar pun mencapai 100 orang lebih. Karena sudah mencapai quota, pendaftaran pun ditutup.

Pemimpin beragama atau pemimpin beriman?

Akhir-akhir ini, banyak sekali baleho-baleho para calon pemimpin yang akan bertarung di pemilu mendatang. Mereka mempromosikan diri mereka dengan penuh kreativitas dan inovasi. Ada baleho berupa ucapan selamat hari raya, selamat tahun baru, selamat atas terpilihnya seseorang, selamat atas prestasi yang diperoleh oleh seseorang, dan sebagainya. Bahkan ada pula yang mendadak bergaya layaknya sang ustadz/ustadzah.  Hal yang harus digarisbawahi adalah tidak semua pemimpin yang beragama menjalankan amanah sesuai dengan tuntunan agama. Jangan mudah percaya dengan para calon pemimpin yang mendadak bergaya alim. Oleh karena itu, kita sebagai rakyat biasa hendaknya jangan sampai menjadi korban pembodohan. Ingat, yang harus dinomorsatukan adalah kualitasnya, bukan hanya penampilannya. Baik itu kualitas ilmunya, maupun kualitas agamanya.