Jika kita hendak berangkat menuju ke suatu
tempat, hal utama yang mesti dipertimbangkan sebelumnya ialah berbagai
kemungkinan halangan yang akan menimpa serta tantangan yang dapat menghambat
perjalanan kita. Agar tantangan tersebut tidak menjadikan kita terhenti atau
terseret pada arus yang membuat kita tak sampai pada tujuan, maka kita harus
mampu menkonversikan tantangan tersebut menjadi sebuah peluang emas yang jika
digunakan maka akan mempercepat kita untuk mencapai tujuan.
Saat ini kita sedang menempuh
perjalanan menuju masa depan. Tentunya, banyak hal yang dapat menghalangi kita
untuk sampai pada tujuan tersebut. Tergantung apakah ia mampu atau tidak
merespon perubahan lingkungan yang terjadi. Sebab, dunia ini semakin mengalami
perubahan seiring dengan peningkatan pengetahuan dan wawasan manusia. Jadi,
apabila orang tersebut tidak meningkatkan pengetahuan dan wawasannya,
dipastikan akan menjadi makhluk yang kerdil dan tertinggal. Akibatnya, ia tak
mampu beradaptasi dengan lingkungan dan akhirnya ia akan mengalami kepunahan.
Begitulah teorinya jika kita merujuk pada ilmu Biologi. Oleh sebab itu, agar
kita tidak menjadi manusia yang tertinggal ketika menempuh perjalanan menuju
masa depan ini, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui apa saja tantangan
yang bakal ditemui nantinya.
Setidaknya ada 4 (empat) tantangan yang akan
dialami oleh manusia pada masa kini.
Yakni, Globalisasi, Perdagangan bebas, Kecanggihan IT, dan Degradasi moral.
Globalisasi
Dampak umum dari globalisasi adalah
manusia dituntut untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas dirinya. Sebab jika
tidak, ia akan terseret pada arus globalisasi yang akhirnya dapat membuatnya
tertinggal pada perkembangan zaman. Jika seseorang tertinggal pada perkembangan
zaman, ia akan sulit untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini karena,
dengan adanya globalisasi, masing-masing negara saling meningkatkan kualitas
SDM-nya masing-masing. Bahkan, apabila SDM-nya telah unggul dan mampu
menciptakan produk atau sistem yang dapat digunakan dalam menjalani aktivitas
dalam kehidupan ini, maka negara yang SDM-nya belum unggul akan mengikuti
sistem yang baru atau produk yang telah dihasilkan oleh SDM unggul tersebut.
Dampaknya adalah terkikisnya budaya khas SDM yang belum unggul tersebut.
Apabila manusia yang berada di
lingkungan tertentu telah terseret oleh sistem yang diterapkan di lingkungan
lain, berarti sama saja ia telah menjadi bagian dari lingkungan yang lain
tersebut, hanya saja berada di tempat yang berbeda. Adalah baik jika produk
yang muncul tersebut berdampak positif jika digunakan, namun apabila produk
tersebut berdampak negatif, maka akan menjadi masalah baginya.
Sebagai contoh adalah semakin trend-nya jenis pakaian. Indonesia yang
identitas pakaiannya adalah sopan-santun, akibat dari globalisasi, trend pakaian barat pun dijadikan kiblat
bagi perkembangan pakaian masa kini. Dampaknya, orang yang berjilbab dibilang tidak
trend, yang menggunakan celana sobek
dibilang trend, laki-laki yang
menggunakan anting dibilang trend,
dan sebagainya. Padahal, budaya ini bukanlah budaya asli indonesia.
Oleh karena itu, kita harus
senantiasa mengunggulkan diri kita agar dapat menciptakan pengaruh, bukan hanya
bisa dipengaruhi oleh trend dari
negara lain. Serta, kita harus mempertahankan budaya kita sebagai warga negara
indonesia dan umat beragama.
Perdagangan bebas
Sistem ekonomi kemasyarakatan yang
dicetuskan oleh Muhammad Hatta ketika era kemerdekaan ternyata tergulirkan
dengan adanya pasar bebas. Pihak asing merajalela melakukan aktivitas jual beli
di indonesia. Mari kita amati di rumah masing-masing, hitunglan persentase
produk asli indonesia yang kita gunakan. Sangat miris sekali. Ibarat orang yang
di rumah kita jualan produk A, namun kita lebih memilih membeli produk A kepada
orang lain. Kita lebih tergiur belanja di mini market daripada di warung. Hal
ini dapat dimaklumi, karena di mini market harganya lebih murah. Namun, dampak
dari bertaburannya keberadaan mini market membuat rakyat indonesia yang
berprofesi sebagai pedagang menjadi hilang konsumennya. Akhirnya, pedagang pun
gulung tikar.
Selain itu, anak bangsa yang
menciptakan sebuah produk dianggap produknya ‘tidak’ berkualitas, sehingga
orang lebih memilih untuk membeli produk asing. Inilah realita yang terjadi
saat ini. Kita terasa dijajah oleh negara sendiri. Oleh karena itu, lagi-lagi
solusi terbaiknya adalah kita mesti meningkatkan kualitas diri masing-masing.
Sehingga, nantinya kita dapat menciptakan dan menjual produk yang lebih kreatif
dan lebih berkualitas daripada produk asing serta mampu mengikat hati para
calon konsumen dan para pejabat untuk menghentikan praktik pasar bebas
disebabkan oleh kita yang telah mampu mengungguli produk asing.
Kecanggihan IT
Pesatnya perkembangan teknologi dan
penyebaran informasi saat ini mengakibatkan masyarakat indonesia yang ‘Gaptek’
dan minim pusat informasi menjadi masyarakat yang kerdil. Sehingga terjadilah
kesenjangan kualitas antara “masyarakat desa” dan “masyarakat kota”. Ketika “masyarakat
kota” memanfaatkan teknologi terbarukan dalam melakukan aktivitas, “masyarakat
desa” semakin ketinggalan zaman gara-gara ‘Gaptek’. Ditambah pula dengan
minimnya penerimaan informasi oleh “masyarakat desa” membuat “masyarakat kota” sangat
mudah mempengaruhi pola pikir dan ‘menjual-belikan’ “masyarakat desa”.
Jika kita hanya menghandalkan bantuan
pemerintah agar kita dapat mengejar ketinggalan tersebut, mungkin butuh waktu
yang sangat lama. Oleh karena itu, kita mesti meningkatkan kapasitas diri
masing-masing secara mandiri agar tidak menjadi masyarakat yang buta teknologi
dan informasi.
Degradasi moral
Seringkali saya mendengar orangtua yang
mengeluh diawali dengan kata : “Anak-anak zaman sekarang bla.. bla… bla..” Pola
kalimat ini menunjukkan bahwasanya adanya perubahan moral anak-anak zaman
dahulu dengan zaman sekarang. Inilah dampak dari modernisasi. Kita tidak bisa memaksa
anak muda zaman sekarang agar sama dengan anak muda zaman dahulu. Oleh karena
itu, kita mesti menanamkan nilai-nilai spiritual kepada generasi muda saat ini
agar mereka cenderung untuk melakukan hal-hal yang positif di era modern ini.
Nilai-nilai spiritual yang bukan hanya berupa pengetahuan saja, namun juga
berupa tingkah laku. Tidaklah cukup hanya pelajaran agama di sekolah untuk
mengubah pola pikir dan pola tingkah anak-anak. Perlu adanya praktik yang
konsisten dan senantiasa meningkat agar menjadi kebiasaan. Sebaiknya, anjurkan
generasi muda untuk masuk pada suatu wadah yang melakukan aktivitas keagamaan.
Seperti menyekolahkan mereka di sekolah yang berbasis agama, mengikuti
pengajian-pengajian, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang berhubungan dengan
keagamaan, dan lain-lain.
Jadi kesimpulannya adalah, dalam
menyikapi perkembangan zaman ini kita mesti memposisikan diri kita agar tidak
terseret oleh arus negatif globalisasi. Caranya adalah dengan meningkatkan
kekuatan kita untuk menyerang dengan cara meningkatkan kualitas diri dengan
pengetahuan dan wawasan, serta meningkatkan kekuatan kita untuk bertahan dengan
cara membekali diri kita dengan nilai-nilai keagamaan.
(Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di rubrik opini koran Jambi Independent edisi 6 Juli 2014)

Komentar
Posting Komentar