Di era modern saat ini, persaingan
untuk mempengaruhi orang banyak semakin ketat. Siapa yang paling mampu
memberikan yang terbaik, maka ia akan lebih banyak disukai. Bahkan akan
memungkinkan terjadi, bahwa hal-hal yang penting namun tidak menarik menjadi
kalah saing. Sedangkan hal yang tidak penting namun menarik akan berkuasa.
Akibatnya, kualitas bisa saja menjadi hal yang tidak terlalu penting. Karena,
sudah terkecoh dengan penampilan luar. Oleh karena itu, jika ingin mendapat
perhatian lebih dari orang banyak, sehingga mampu mempengaruhi mereka, maka
harus memiliki kemampuan berfikir dan bertindak kreatif. Agar hal yang
dihasilkan merupakan hal yang baru dan lebih menarik.
Guru & Game merupakan 2 hal
yang paling mendominasi kehidupan generasi muda. Jika pengaruh guru lebih kuat
daripada pengaruh game, maka generasi indonesia di masa mendatang akan lebih
terdidik. Jika pengaruh game lebih kuat daripada pengaruh guru, maka generasi
indonesia di masa mendatang dapat kita bayangkan akan mengalami kemerosotan.
Karena, mereka telah terjebak dengan hal-hal yang tidak terlalu penting namun
menyenangkan. Jadi, orang yang berperan aktif melakukan hal-hal yang penting
harus bisa berkuasa. Caranya adalah dengan melakukan hal-hal penting dengan
lebih menarik.
Anak-anak lebih menyukai hal-hal
yang sifatnya hiburan daripada belajar. Kondisi ini adalah suatu fitrah.
Karena, dunia anak-anak adalah dunia bermain. Beda halnya dengan dunia
bapak-bapak atau ibu-ibu. Dunia mereka bukanlah dunia bermain-main. Tetapi,
dunia yang menuntut mereka untuk bekerja banting tulang untuk mencukupi
kebutuhan keluarga. Sedangkan anak-anak, mereka belum memiliki beban
tanggungan. Itulah mengapa anak-anak lebih suka bermain game daripada belajar.
Anak-anak menghabiskan waktu 7-9
jam dengan gurunya. Sedangkan bermain game, mereka hanya menghabiskan waktu 2-3
jam. Namun, dalam waktu yang singkat game online mampu membuat siswa
ketergantungan. Jarang sekali siswa ketergantungan belajar dengan seorang guru.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal anak-anak lebih banyak menghabiskan
waktunya dengan guru? Sebab, dengan guru mereka tidak merasakan suasana ketika
bermain game. Mereka lebih didominasi untuk berfikir serius. Terjadilah
pertarungan mempengaruhi anak-anak antara guru dan game online. Keduanya
menggunakan pola yang berbeda. Berfikir vs bermain. Inilah pertarungannya!
Pertanyaannya adalah dapatkah guru
mengalahkan game online? Jawabannya harus bisa! Setidaknya nilainya seri.
Sebab, jika guru telah dikalahkan oleh game online, berarti dunia pendidikan
telah dikalahkan oleh dunia hiburan. Ketika dunia hiburan telah berhasil
menguasai secara penuh generasi muda kita, maka di masa mendatang kita hanya
bisa melihat generasi indonesia yang bermalas-malasan dan lebih banyak
menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak produktif.
Melihat kondisi di atas, maka
seorang pendidik sangat dituntut untuk melakukan revolusi besar-besaran dengan
selalu berinovasi untuk menciptakan berbagai pola atau model pembelajaran yang
dapat diterapkan di kelas. Sehingga, diharapkan dengan ide tersebut mampu
mengubah pola pikir kebanyakan siswa yang selama ini menjadikan belajar sebagai
hal yang tidak diinginkan, menjadi hal yang begitu dinantikan setiap harinya.
Memang, tidaklah mudah membuat
model pembelajaran yang mampu mengalahkan dunia permainan. Ditambah lagi model
pembelajaran yang dirancang tidak cukup hanya satu saja. Sebab, mata pelajaran
yang diajarkan di sekolah sangat banyak, tidak hanya satu. Jika setiap harinya
guru dituntut untuk menggunakan pola pembelajaran yang sifatnya dapat
mengimbangi game online, maka akan banyak waktu yang harus dimiliki oleh guru.
Biasanya, satu model pembelajaran
bisa jadi hanya dapat digunakan untuk satu materi. Sedangkan guru harus
dituntut untuk mengejar target dengan cepat. Jadi, untuk mengefisiensikan
waktu, maka guru cukup memilih satu mata pelajaran saja yang fokus dirancang
pola pembelajarannya dengan menggunakan model yang dapat mengimbangi game
online. Misalnya, fokus pada mata pelajaran matematika saja. Karena, kebanyakan
siswa kesulitan memahami perhitungan matematika dengan cepat. Atau pada materi
lainnya.
Selain itu, bisa juga pola
pembelajaran yang telah dirancang hanya diterapkan seminggu sekali, atau
sebulan 2x, atau sebulan 1x. Yang jelas, buatlah siswa menjadi sangat
menanti-nantikan waktu pelajaran dengan menggunakan pola pembelajaran yang
telah dirancang kreatif oleh guru. Karena selama ini, jarang sekali kita
bertemu siswa yang sangat menanti-nantikan kegiatan pembelajaran. Hal ini
disebabkan karena siswa merasa jenuh dan tidak seru mengikuti proses
pembelajaran.
Beda halnya dengan ketika mereka
bermain game online. Selalu ada tantangan yang menanti. Setiap level musuhnya
selalu berbeda-beda dan tempatnya pun terdapat berbagai rintangan baru. Hal
inilah yang membuat game online menjadi seru. Karena, penuh dengan tantangan dan
kejutan. Apakah guru tidak bisa merancang proses pembelajaran yang demikian?
Pembaca sekalian. Menurut penulis,
rancangan pola pembelajaran yang sifatnya demikian bahkan lebih baik daripada
RPP dan Silabus. Karena lebih konkrit dan mengerucut. Lihatlah RPP dan silabus
yang selama ini dibuat oleh guru. Isinya padahal sudah tertera di buku (seperti
: kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, contoh soal, format penilaian dan
sebagainya). Tapi, disalin lagi di RPP dan silabus. Hal ini terlihat bahwa guru
sedang berkutat pada hal yang tidak terlalu substansif. Karena, yang terpenting
adalah apa yang hendak diajarkan dab bagaimana cara guru mengajarnya, itulah
substansinya. Sedangkan yang lain-lainnya sudah tertera di buku siswa.
Jika yang dirancang oleh guru hanya
model pembelajaran yang kreatif dan inovatif,
maka isinya tidak perlu banyak-banyak. Isinya cukup apa indikator
pembelajarannya dan bagaimana pola pembelajarannya. Namun, pola pembelajarannya
haruslah kreatif dan unik. Jika pola pembelajarannya masih bersifat klasik,
maka pihak sekolah bisa saja membuat kebijakan untuk tidak menerimanya.
Sehingga, guru menjadi sangat dituntut untuk berfikir kreatif merancang pola
pembelajaran yang unik. Jika tidak demikian, maka pola pembelajaran yang dapat
mengalahkan game online akan sulit ditemukan.
Harapannya, guru dapat membuat pola
pembelajaran yang baru. Tidak hanya selalu mengikuti yang sudah pernah ada.
Sebab, setiap guru tentunya memiliki ide yang unik-unik. Jika tidak
dimanfaatkan, maka akan sangat disayangkan. Padahal jika idenya diterapkan,
maka akan dapat membuat siswa menjadi ketagihan untuk belajar. Itulah yang kita
harapkan.
(Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di rubrik opini koran Jambi Ekspres. Tulisan ini dipublikasikan tidak atas nama penulis, namun atas izin penulis. Dalam hal ini, penulis sebagai "Ghost Writer")

Komentar
Posting Komentar