Sebelum
pembahasan ini dimulai, penulis ingin mengajak pembaca menjawab pertanyaan
berikut. Tidak perlu mencari data yang akurat. Cukup menurut perkiraan saja.
Pertanyaannya adalah manakah yang lebih banyak jumlahnya antara wali murid yang
memberikan les tambahan untuk anaknya mempelajari pelajaran matematika, bahasa
inggris, fisika dan kimia, atau yang memberikan les tambahan untuk mempelajari
agama (budi pekerti)?
Penulis
memperkirakan bahwa mayoritas pembaca akan menjawab bahwasanya wali murid lebih
banyak memberikan les tambahan kepada anaknya untuk mempelajari pelajaran
matematika, bahasa inggris, fisika, dan kimia daripada memberikan waktu tambahan
untuk mempelajari agama. Ada banyak alasannya. Salah satunya adalah karena
menurut paradigma dunia saat ini, siswa yang hebat adalah siswa yang nilai
matematika, bahasa inggris, fisika dan kimianya tinggi, sedangkan siswa yang memiliki
nilai lebih dalam hal budi pekerti, kejujuran dan interaksi sosial (nilai
pengetahuan umumnya rendah) dipandang sebelah mata.
Paradigma
tersebut bisa tertanam erat di masyarakat dikarenakan minimnya penghargaan
diberikan kepada siswa yang unggul di budi pekerti. Kebanyakan penghargaan hanya
diberikan kepada siswa yang unggul di ilmu pengetahuan. Bahkan sering ditemukan
pula siswa yang nilai budi pekertinya minim namun nilai ilmu pengetahuannya
tinggi justru diberikan penghargaan daripada siswa yang budi pekertinya unggul
namun minim ilmu pengetahuannya. Akibatnya, siswa lebih terfokus untuk
bagaimanapun caranya agar bisa mendapatkan nilai tinggi meskipun dengan
menyontek.
Apabila
paradigma tersebut diubah, dengan menganggap bahwa siswa yang hebat adalah
siswa yang memiliki nilai budi pekerti yang tinggi, meskipun nilai matematika,
bahasa inggris, fisika dan kimianya rendah, maka akan berbeda pula kenyataannya.
Nah, untuk mengetahui manakah yang terbaik, maka pertanyaan selanjutnya adalah
manakah yang lebih penting antara budi pekerti ataukah pengetahuan?
Allah
swt berfirman yang artinya : “Dan Tuhanmu
sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang
penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan” (Q.s Huud [11] : 117)
Perhatikan
ayat di atas. Allah swt sangat jelas menyebutkan bahwasanya salah satu penyebab
kebinasaan suatu negeri disebabkan oleh penduduknya yang tidak memiliki budi
pekerti yang luhur. Sedangkan negeri yang penduduknya adalah orang-orang yang
berbuat kebaikan, Allah swt tidak akan membinasakannya. Berarti, dalam hal ini
bisa saja negeri yang seluruh penduduknya ahli matematika, fisika, kimia dan
sebagainya menjadi binasa dikarenakan mereka tidak memiliki budi pekerti yang
luhur.
Sebagai
contoh, kita bandingkan antara negara Arab Saudi dan negara Jepang. Arab Saudi,
negara yang terkenal dengan kota mekkah-nya yang merupakan pusat peribadatan
seluruh umat islam di seluruh dunia, jarang sekali kita mendengar berita bahwa
negara ini tertimpa musibah alam yang besar. Padahal, ilmuwan yang ahli di
bidang matematika, teknologi, kimia, fisika, dan lain-lain sangat sedikit
berasal dari negeri ini. Sedangkan Jepang, negara yang memiliki banyak ilmuwan
dan para ahli teknologi ini seringkali kita mendengar berita bahwa di negeri
ini terjadi bencana yang disebabkan oleh aktivitas alam. Seperti, gempa,
banjir, tsunami, ledakan nuklir, dan sebagainya. Alam terlihat seperti sedang
memberontak karena banyaknya manusia yang
jauh dari tuhannya. Bahkan Indonesia pun juga sering mengalami bencana
alam. Untuk itu, curigalah bahwa penyebabnya adalah alam yang sedang
memberontak karena ulah manusia yang jauh dari tuhannya, sehingga mendorong
manusia melakukan sesuatu tanpa mengikuti aturan yang ditetapkan oleh tuhannya.
“Telah nampak
kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.s Ar-Ruum [30] : 41)
Dari
pemaparan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya budi pekerti lebih
penting daripada pengetahuan. Lantas, apakah selama ini siswa-siswi yang
berbudi pekerti luhur mendapatkan penghargaan yang lebih besar daripada
siswa-siswi yang pintar matematika, kimia, atau fisika?
Banyak
sekolah memberikan slogan “sekolah berkarakter” untuk sekolahnya. Harusnya,
sekolah yang demikian lebih mementingkan peningkatan karakter siswa daripada
pengetahuan siswa. Idealnya adalah seimbang antara budi pekerti dan pengetahuan.
Namun, fokusnya adalah tetap mengutamakan budi pekerti atas ilmu pengetahuan.
Berarti, aspek penilaiannya sedikit berbeda dengan yang lainnya. Jika
perhitungan nilai akhir untuk rangking hanya melihat aspek kognitif saja, maka sistem
rangkingnya mesti ditambah dengan mengacu pada budi pekerti. Misalnya, nantinya
akan ada siswa yang rangking 1 dalam hal kejujuran, rangking 1 dalam hal
tanggung jawab, rangking 1 dalam hal kedisiplinan, dan seterusnya.
Mari
sejenak kita membayangkan apa yang akan terjadi ketika sistem rangking tidak
hanya pada aspek nilai kognitif saja, namun juga pada aspek budi pekerti.
Siswa-siswa yang memiliki kesulitan dalam memahami pelajaran pun akan berusaha
untuk bisa mendapatkan rangking, yaitu rangking pada aspek budi pekerti. Selama
ini yang terjadi adalah siswa-siswa yang sulit memahami pelajaran diibaratkan
sebagai pelengkap isi kelas saja. Mereka hadir ataupun tidak, dianggap
biasa-biasa saja. Mereka tidak bergairah untuk bisa menjadi berprestasi. Karena
mengejar rangking 1 adalah suatu hal yang mustahil baginya. Sehingga, ia
menjadi tidak bergairah di kelas.
Pembaca
sekalian, jadi, kita mesti memberikan penghargaan yang lebih kepada siswa yang
berbudi pekerti baik. Untuk memberikan penghargaan kepada siswa yang memiliki
nilai lebih pada budi pekerti, caranya tidak hanya melalui rangking. Namun,
dapat juga dengan setiap satu bulan sekali guru memberikan hadiah kepada siswa
yang paling jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan sebagainya. Sehingga, siswa
memiliki target per bulannya. Efek tidak langsungnya meskipun mereka tidak
mendapatkan hadiah adalah mereka akan terbiasa dengan budi pekerti yang baik.
Disamping
memberikan penghargaan kepada siswa yang memiliki nilai yang lebih pada budi
pekerti, kita juga mesti memberikan hukuman kepada siswa yang nilai pengetahuan
dan budi pekertinya masih berada di bawah indikator yang telah disepakati.
Hukumannya bukanlah berupa kontak fisik, namun berupa perintah untuk melakukan
budi pekerti tertentu dalam frekuensi dan periode tertentu. Intinya adalah
ingin mengubah paradigma dunia bahwa menyempurnakan akhlak harus lebih
diutamakan atas menyempurnakan ilmu pengetahuan umum.
(Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di rubrik opini koran Jambi Independent edisi 12 Februari 2015)

Komentar
Posting Komentar