Langsung ke konten utama

Teknik Pendidikan Karakter yang Tidak Tepat


Salah satu club sepakbola di indonesia mengadakan pelatihan untuk pemain sepakbola. Club tersebut memuat sebuah iklan poster yang berisi : 

“Mari ikuti pelatihan sepakbola bersama kami. Hanya dalam waktu 7 hari, Anda akan mendapatkan teknik-teknik permainan sepakbola paling modern dan terbaru dari dalam dan luar negeri. Gratisss”

Mengetahui akan ada pelatihan sepakbola gratis, banyak orang yang tertarik untuk mengikutinya. Wajar saja banyak yang ikut, karena sangat sulit menemui moment seperti ini yang mau menyediakan pelatihan teknik bermain sepakbola era modern dengan gratis hanya dalam waktu 7 hari. Sehingga dalam waktu 5 hari, yang sudah mendaftar pun mencapai 100 orang lebih. Karena sudah mencapai quota, pendaftaran pun ditutup.

2 hari kemudian, pelatihan pun dimulai. Seluruh peserta dikumpulkan dalam suatu ruangan yang telah disediakan. Peserta pun masing-masing diberikan 1 paket buku panduan agar mempermudah proses pelatihan. Sebelum dimulai, pimpinan club sepakbola tersebut memberikan kata sambutan untuk memberikan semangat kepada para peserta.

“Selamat datang saya ucapkan kepada peserta pelatihan. Selama 7 hari kedepan, kalian akan kami latih untuk menjadi pemain sepakbola legendaris. Kalian akan dilatih oleh pelatih-pelatih yang sudah berkompeten di bidangnya masing-masing. Oleh karena itu, kalian harus bersungguh-sungguh mengikutinya. Selamat mengikuti pelatihan”

Setelah pemberian kata sambutan, pelatihan pun dimulai. Pelatih pertama pun datang lalu mengambil tempat yang telah disediakan.

“Baik peserta sekalian, silahkan buka buku panduan yang telah diberikan. Silahkan buka bab 1 halaman 7 mengenai Sejarah sepakbola di dunia”

Pelatih menjelaskan dengan sangat semangat mengenai sejarah sepakbola di dunia. Peserta pun terlihat sangat antusias mengikutinya. Terlihat dari keaktifan peserta ketika pelatihan dilaksanakan. Tiga jam berlalu, akhirnya pelatihan hari pertama pun selesai.

Keesokan harinya, pelatihan pun dilanjutkan. Pelatih kedua datang lalu mengambil tempat yang telah disediakan.

“Baik peserta sekalian, silahkan buka buku panduan yang telah diberikan. Silahkan buka bab 2 halaman 26 mengenai Hakekat dan Prinsip permainan sepakbola”

Pelatih pun juga menjelaskan materi dengan sangat semangat. Peserta sangat menikmati penyampaian oleh pelatih. Sehingga tidak terasa tiga jam pun berlalu. Akhirnya pelatihan kedua pun selesai.

Keesokan harinya, pelatihan pun dilanjutkan. Pelatih ketiga pun datang lalu mengambil tempat yang telah disediakan. Lalu melakukan hal yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Begitu seterusnya hingga hari ke-7. Yang membuatnya beda hanyalah materinya saja. Tidak ada praktek sama sekali hingga pelatihan hari ke-7. Setelah pelatihan hari ke-7 dengan materi : Teknik sepakbola terbaru tahun 2014, pelatih pun memberikan selamat kepada seluruh peserta pelatihan.

“Alhamdulillah.. Akhirnya, 7 hari pun berlalu. Jadi, hari ini pelatihan pun selesai. Semoga ilmu yang telah kalian dapatkan selama 7 hari ini dapat bermanfaat. Selamat!! Kalian hari ini saya nobatkan menjadi pemain sepakbola legendaris tahun 2014 ”

Pertanyaannya adalah apakah peserta telah memiliki pengetahuan tentang permainan sepakbola? Jawabannya adalah “iya!!!”. Tapi jika ditanya apakah peserta pelatihan sudah menjadi pemain legendaris? Atau, apakah peserta telah memiliki keterampilan bermain sepakbola dengan teknik terbaru? Jawabannya adalah “belum tentu”.

Pembaca sekalian, hal ini karena yang diajarkan kepada peserta hanyalah berupa pengetahuannya saja. Sementara keterampilan tidak bisa hanya diajarkan melalui metode di atas. Perlu adanya praktek langsung untuk membiasakan peserta sehingga peserta akan menjadi terbiasa. Lalu, Ketika peserta telah terbiasa, maka akan terbentuklah suatu karakter. Begitulah proses pembelajaran yang seharusnya diterapkan untuk membentuk karakter seseorang. Namun ironinya, di beberapa sekolah kebanyakan pihak hanya mengajarkan ilmunya saja kepada siswa, bukan karakternya.

Menurut Prof. Suyanto Ph.D, Karakter adalah cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dan keputusan yang ia buat. Salah satu karakter siswa yang diinginkan oleh pemerintah adalah agar terbentuknya siswa yang berkarakter islami. Lantas, apakah selama ini siswa hanya diberikan ilmu agama saja di dalam kelas? Jika iya, berarti hal yang diterapkan selama ini sama saja dengan yang dilakukan oleh pelatih club sepakbola di atas. Dengan kata lain, siswa-siswa hanya sebatas mengetahui saja, belum masuk pada tahap membentuk karakternya. Meskipun itu berupa seminar nasional bahkan internasional.

Salah upaya yang dilakukan oleh pemerntah agar siswa dapat menerapkan ilmu agama yang telah dipelajarinya adalah dengan membuat KANTIN KEJUJURAN di sekolah-sekolah. Pertanyaannya adalah apakah dengan kantin kejujuran saja siswa sudah bisa menjadi siswa berkarakter islami? Jawabannya adalah TIDAK! Sebab, kantin kejujuran tidak mengajarkan agar siswa terbiasa membaca Al-qur’an tiap usai sholat, kantin kejujuran juga tidak mengajarkan siswa agar menjalani shalat sunnah, dan lain-lain. Lantas, apa solusi yang dapat diterapkan dalam pembentukan karakter?

Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan memberikan pendidikan berupa pengalaman. Pengalaman akan memberikan pengajaran yang tidak diajarkan di sekolah ataupun lembaga pendidikan lainnya. Ketika balita yang dulunya belum pernah menyentuh api, setelah menyentuh api pasti ia akan jera dan trauma. Begitu juga dengan siswa. Ia akan lebih paham dengan islam apabila ia berada di lingkungan yang menuntut ia belajar dari pengalaman. Dari pengalaman, siswa akan dapat memilih mana yang seharusnya ia lakukan dan mana yang seharusnya tidak ia lakukan.

Pelajaran yang diperoleh dari pengalaman akan diperoleh ketika siswa tidak hanya mengikuti pendidikan formal di sekolah. Tapi, juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Seperti mengikuti OSIS, Rohis, Pramuka, PMI, dan lain-lain. kita bisa melihat perbedaan kualitas siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakuriler dengan yang hanya fokus pada pendidikan formal.  Mereka lebih mandiri, dewasa, kreatif, bertanggung jawab, disiplin, dan sebagainya. Oleh karena itu, jika ingin terbentuknya karakter leadership pada siswa, anjurkan mereka untuk mengikuti OSIS. Jika ingin terbentuknya karakter islami pada siswa, anjurkan mereka untuk mengikuti rohis. Namun jika ingin mereka memiliki kedua karakter tersebut, anjurkan mereka untuk mengikuti keduanya. Dan begitulah seterusnya.

(Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di rubrik opini Koran Jambi Independent edisi 30 Januari 2014)

Komentar