Ketika menjelang hasil kelulusan
SMA diumumkan, saya sering bertanya kepada para siswa “rencananya setelah lulus
mau kuliah dimana?”. Ada beberapa siswa yang dengan tegas menyatakan bahwa ia
akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi mengambil jurusan kedokteran,
keguruan, hukum, dan sebagainya. Namun, ada pula beberapa siswa yang masih
kebingungan ingin melanjutkan studi di jurusan apa. Dari sini saya mendapatkan kesimpulan
bahwasanya tidak semua siswa memahami potensi yang dimilikinya. Ia belum bisa
menjawab “saya ahli di bidang apa?” atau “kemana arah hidup saya?” Hal ini
sangat disayangkan. Sebab, mereka yang belum mengetahui potensi dirinya berarti
selama di sekolah sedang menjalani aktivitas yang tidak menggairahkan. Hanya
mengikuti alur dan mempercayai semboyan “pasti suatu saat nanti akan ada jalan
sukses”.
Banyak yang enggan melanjutkan
sekolah karena merasa sekolah bukanlah hal yang dapat menjadikan dirinya meraih
cita-citanya. Ia merasa potensinya tidak berkembang di sekolah. Ia tidak
menikmati proses di sekolah. Semboyan “rajinlah belajar agar kamu dapat meraih
cita-cita” seolah-olah menjadi hal yang tidak sinkron. Hanya mereka yang suka matematika
dan sains lah yang lebih bergairah untuk menikmati proses pembelajaran di sekolah.
Maka dalam hal ini, pendidikan
menjadi subjek yang penting untuk membuat suasana yang dapat menjadikan siswa
mengetahui bakat yang dimilikinya. Sayangnya, pendidikan kita terkurung dalam
sistem klasik yang membuat pendidikan kita terhambat untuk menghasilkan
generasi yang dapat menjadi manusia baru di era mendatang. Pendidikan kita
terfokus tentang bagaimana meningkatkan nilai UN siswa yang padahal nilai-nilai
tersebut hanyalah dipandang sebagai dokumen formalitas. Parahnya, model pendidikan
ini telah turun-temurun diterapkan dan hasilnya belum memuaskan.
Saya membayangkan jika ada
sekolah yang tujuan utama gurunya bukanlah untuk meningkatkan nilai UN siswa,
tetapi menumbuhkan dan mengembangkan minat siswa pada bidang dan keahlian tertentu,
sehingga ia dapat menjadi ahli dan menjadi problem
solver atas permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Disanalah ia dilatih
bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat. Titik tumpunya bukanlah nilai ujian
siswa, melainkan inovasi dan kemampuan yang mereka hadirkan untuk memecahkan
masalah yang ada menurut caranya.
Hal yang dapat dilakukan oleh
sekolah saat ini bukanlah dengan menghilangkan kegiatan pembelajaran. Namun, dengan
mendesain program dan kegiatan-kegiatan sekolah yang dapat memunculkan para siswa
yang tak sekedar ahli di bidang akademik, namun juga ahli di bidang
kepemimpinan, komunikasi, olahraga, kerjasama, kewirausahaan, keagamaan, dan
sebagainya. Sifatnya bukanlah momentual, namun bersifat kontinu dan memang
berjalan di setiap aktivitas sekolah. Kurangi aktivitas penugasan individu
(bukan berarti tidak ada), perbanyak penugasan proyek yang dikelompokkan
berdasarkan minat siswa. Sehingga, disana mereka akan berdiskusi memecahkan masalah secara bersama. Disitulah
nanti mereka akan melalui proses menemukan potensi dirinya dan ia akan menjadi
ahli di bidangnya. Inilah proses pendidikan yang dapat menghasilkan siswa yang paling
dibutuhkan di masa mendatang.
Penulis : Wasril Tanjung, S,Pd
Instagram : @wasriltanjung
Facebook : Wasril Tanjung Al-Ardvici II
Komentar
Posting Komentar