Langsung ke konten utama

Sekolah Mencetak Para Ahli | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd



Ketika menjelang hasil kelulusan SMA diumumkan, saya sering bertanya kepada para siswa “rencananya setelah lulus mau kuliah dimana?”. Ada beberapa siswa yang dengan tegas menyatakan bahwa ia akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi mengambil jurusan kedokteran, keguruan, hukum, dan sebagainya. Namun, ada pula beberapa siswa yang masih kebingungan ingin melanjutkan studi di jurusan apa. Dari sini saya mendapatkan kesimpulan bahwasanya tidak semua siswa memahami potensi yang dimilikinya. Ia belum bisa menjawab “saya ahli di bidang apa?” atau “kemana arah hidup saya?” Hal ini sangat disayangkan. Sebab, mereka yang belum mengetahui potensi dirinya berarti selama di sekolah sedang menjalani aktivitas yang tidak menggairahkan. Hanya mengikuti alur dan mempercayai semboyan “pasti suatu saat nanti akan ada jalan sukses”.

Banyak yang enggan melanjutkan sekolah karena merasa sekolah bukanlah hal yang dapat menjadikan dirinya meraih cita-citanya. Ia merasa potensinya tidak berkembang di sekolah. Ia tidak menikmati proses di sekolah. Semboyan “rajinlah belajar agar kamu dapat meraih cita-cita” seolah-olah menjadi hal yang tidak sinkron. Hanya mereka yang suka matematika dan sains lah yang lebih bergairah untuk menikmati proses pembelajaran di sekolah. 

Maka dalam hal ini, pendidikan menjadi subjek yang penting untuk membuat suasana yang dapat menjadikan siswa mengetahui bakat yang dimilikinya. Sayangnya, pendidikan kita terkurung dalam sistem klasik yang membuat pendidikan kita terhambat untuk menghasilkan generasi yang dapat menjadi manusia baru di era mendatang. Pendidikan kita terfokus tentang bagaimana meningkatkan nilai UN siswa yang padahal nilai-nilai tersebut hanyalah dipandang sebagai dokumen formalitas. Parahnya, model pendidikan ini telah turun-temurun diterapkan dan hasilnya belum memuaskan.

Saya membayangkan jika ada sekolah yang tujuan utama gurunya bukanlah untuk meningkatkan nilai UN siswa, tetapi menumbuhkan dan mengembangkan minat siswa pada bidang dan keahlian tertentu, sehingga ia dapat menjadi ahli dan menjadi problem solver atas permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Disanalah ia dilatih bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat. Titik tumpunya bukanlah nilai ujian siswa, melainkan inovasi dan kemampuan yang mereka hadirkan untuk memecahkan masalah yang ada menurut caranya.

Hal yang dapat dilakukan oleh sekolah saat ini bukanlah dengan menghilangkan kegiatan pembelajaran. Namun, dengan mendesain program dan kegiatan-kegiatan sekolah yang dapat memunculkan para siswa yang tak sekedar ahli di bidang akademik, namun juga ahli di bidang kepemimpinan, komunikasi, olahraga, kerjasama, kewirausahaan, keagamaan, dan sebagainya. Sifatnya bukanlah momentual, namun bersifat kontinu dan memang berjalan di setiap aktivitas sekolah. Kurangi aktivitas penugasan individu (bukan berarti tidak ada), perbanyak penugasan proyek yang dikelompokkan berdasarkan minat siswa. Sehingga, disana mereka akan berdiskusi  memecahkan masalah secara bersama. Disitulah nanti mereka akan melalui proses menemukan potensi dirinya dan ia akan menjadi ahli di bidangnya. Inilah proses pendidikan yang dapat menghasilkan siswa yang paling dibutuhkan di masa mendatang.

Penulis : Wasril Tanjung, S,Pd
Instagram : @wasriltanjung
Facebook : Wasril Tanjung Al-Ardvici II

Komentar