Langsung ke konten utama

Politik : Kawasan Dilarang Menggunakan Agama? | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd


Ruang lingkup bagi para orientalis dan westernisasi menjadi luas. Sedangkan suara para penyeru kebenaran menjadi sempit. Keteguhan dalam beragama dianggap tindakan ekstrem dan penyebar teror. Adapun keluar dari agama adalah tindakan moderat. Bahkan sebagian dari kita meminta bantuan kepada orang-orang kafir dan musuh agama dalam memerangi saudara-saudaranya sendiri.

Memasukkan nilai-nilai islam kedalam politik dicap sebagai hal yang menjijikkan. Dan dicap sebagai sumber dari perpecahan. Menggemakan suara takbir utk menyemangati umat malah dinilai sebagai hal yg tidak pantas. Padahal takbir adalah mengagungkan nama Allah. Nama Allah dapat diagungkan dimana-mana tidak ada batas tertentu. Kecuali di tempat buang air. Lantas kenapa tidak boleh mengagungkan nama Allah di ranah politik?

Jika agama dilarang masuk ke ranah politik, lantas untuk apa para politisi belajar tentang nilai-nilai islam jika ternyata tidak boleh diterapkan?

Saya sempat berdiskusi dengan salah satu warga di Rt.46 Kel. Kenali Besar Kec. Alam Barajo Kota Jambi. Dengan nada heran ia bertanya kepada saya :

"Koq bisa ya orang kafir dipilih oleh orang muslim pada pemilu?

Saya tersenyum lalu memberikan pendapat :

"Barangkali ada sesuatu yang ditawarkannya sehingga membuat muslim tertarik untuk memilihnya. Uang barangkali.. ^_^"

"Saya rasa mereka ini belum sampe pemikirannya tentang pentingnya menomorsatukan caleg yang muslim dan beriman. Yang mereka lihat hanyalah uangnya. Ini menyedihkan!" ucapnya

Saya setuju dengan ucapan warga tersebut. Karena memang diakui bahwa belum semua muslim yang sadar bahwa kepemimpinan islam adalah hal yang sangat penting. Kita mengeluh karena miras dijual dimana-mana, para siswi banyak yang tidak betah menggunakan jilbab, banyak masjid yang tidak ada lagi pengajian setelah maghrib, dan sebagainya. Namun dengan pemimpin yang mengerti betul dengan nilai-nilai islam, ia akan menggunakan kekuasaannya untuk beramar ma'ruf nahi mungkar. Itulah kekuatan pemimpin islam. Apa jadinya jika wakil rakyat malah yang jauh dari agama?

Wahai saudaraku seiman! Jadikanlah prinsip-prinsip didalam islam sebagai indikator kebenaran yang kita pegang. Jika kita muslim, maka prinsip beragama harus dinomorsatukan. Istilah nasionalisme seringkali dijadikan media bagi mereka yg ingin memisahkan agama dari kehidupan kita. Padahal Nasionalisme yang diinginkan oleh pendiri bangsa ini bukanlah memisahkan agama dari kehidupan. Justru menjadikan agama sebagai prinsip utama dalam bernegara. Karena dengan kita menjunjung tinggi prinsip agama lah keberkahan akan datang.

Terakhir saya kutip firman Allah swt yang artinya

"Jikalau sekiranya penduduk negeri BERIMAN dan BERTAKWA, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka BERKAH dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya" (Q.s Al-A'raf : 96)

Ini adalah dalil tentang NASIONALISME yg harus dipegang erat oleh umat islam dan harus menjadi acuan bagi para politisi jika ingin menjadikan negeri ini penuh keberkahan yang datang dari arah yang tidak diduga-duga.

Wasril Tanjung, S.Pd 
Calon Anggota DPRD Kota Jambi 
Daerah Pilih Kecamatan Alam Barajo 
Nomor Urut 3
 



Berikan aspirasimu melalui 
Instagram : @wasriltanjung 

Komentar