Langsung ke konten utama

Belajar untuk Mengajarkan | Oleh : Wasril Tanjung, S.Pd


Jawaban yang seringkali kita dengar atas pertanyaan "Apa sih tujuan kita belajar?" adalah agar kita menjadi pintar. Namun, sebenarnya tujuan yang lebih mulia dari sekedar menjadi pintar adalah ingin melakukan perubahan dalam kehidupan ini. Salah satu wujud perubahan yang dapat dilakukan setelah belajar adalah mengajarkan kepada sebanyak-banyaknya orang atas ilmu-ilmu yang telah kita dapati.

Mengajarkan ilmu yang telah didapatkan kepada orang lain hanyalah salah satu aktivitas setelah belajar. Cara lain yang dapat dilakukan setelah belajar adalah melakukan inovasi untuk kehidupan ini. Namun, jika hanya berinovasi tanpa ada aktivitas mengajarkan kepada orang lain atas apa yang telah dilakukan, maka regenerasi inovator akan terhenti. Kita tidak akan bisa lagi menemukan inovator-inovator lainnya. Namun jika kita mengajarkan kepada orang lain, maka akan bermunculan para inovator lainnya.

Mari sejenak kita renungi apa yang kita lakukan dalam rangka menuntut ilmu. Ternyata, aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang sangat besar. Karena, mencari ilmu merupakan aktivitas yang hanya dilakukan oleh mereka yang memiliki keinginan yang besar untuk menjadi lebih baik dan menjadikan sesuatu menjadi lebih baik.

Peradaban zaman selalu dipelopori oleh mereka yang memiliki ilmu yang banyak dan keinginan yang besar untuk melakukan perubahan. Memang, perubahan akan dapat terjadi jika kita hanya memiliki keinginan yang kuat untuk merubah keadaan. Namun, jika yang mengubah keadaan dilakukan oleh mereka yang tidak berilmu, maka perubahan yang terjadi tidak didasari dengan ilmu pengetahuan.

Maka, tidak salah jika kita men’cap’ orang-orang yang senantiasa bersemangat menuntut ilmu adalah orang-orang yang mulia. Mereka adalah orang-orang terpilih yang telag dipilih oleh Allah swt untuk melakukan perubahan di kehidupan ini. Mereka adalah bagian dari simpul-simpul dakwah dari Rasulullah saw.

Di masa kenabian, ketika Rasulullah saw menerima wahyu Allah melalui perantara malaikat Jibril, maka yang dilakukan oleh rasulullah adalah langsung mengajarkan kepada para sahabat. Perubahan pun terjadi. Dan para sahabat pun turut menyampaikan ilmu yang diterima tadi kepada para sahabat lainnya. Begitu seterusnya hingga ilmu tersebut sampai kepada kita yang saat itu hidup setelah ribuan tahun wafatnya Rasulullah saw.

Allah swt sangat menghargai kerja keras para penuntut ilmu. Kita baca di beberapa dalil dan beberapa hadits, banyak sekali keutamaan para pencari ilmu. Namun, tidak semua penuntut ilmu yang Allah akan beri keberkahan.

Setiap penuntut ilmu pasti akan mendapatkan ilmu. Tetapi, tidak semua penuntut ilmu yang akan mendapatkan berkah. Hanya orang-orang tertentu saja yang akan mendapatkan berkah dan dicap Allah swt sebagai orang yang Rabbani. Siapakah mereka?

"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Q.s Ali Imran : 79)

Untuk mendapatkan keberkahan dari Allah swt dan dicap sebagai pribadi Rabbani adalah melakukan aktivitas belajar dan mengajar.

Wasril Tanjung, S.Pd
Calon Anggota DPRD Kota Jambi
Dapil Kecamatan Alam Barajo
Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Komentar