Bismillahirrahmanirrahim...
Kali ini, saya akan membahas sedikit tentang
bagaimana cara agar kita tidak takut melakukan kebenaran. Suatu hari saya
pernah mengikuti training motivasi di kampus. Motivatornya mengatakan hal yang
saya rasa unik namun benar-benar memiliki makna yang benar. Ia mengatakan
begini :
“Kenapa kebanyakan kita melakukan kebenaran
dengan ragu-ragu? Padahal, orang yang melakukan maksiat aja tidak ragu-ragu.
Lantas mengapa kita yang sudah jelas melakukan kebenaran koq ragu-ragu? Copet aja
kalo ragu-ragu pasti ketangkep... nah, kita aja diajak ngaji koq ragu-ragu?
Pokoknya, kalo nggak masuk neraka, nggak dosa, nggak melanggar aturan, nggak
ketangkep polisi, nggak digebukin orang, lakukanlah!!”
Nah itu..
Contoh lainnya adalah ketika saya diamanahkan
di BEM KBM UNJA tahun lalu. Ada kasus yang sangat meresahkan mahasiswa
khususnya di program PGMPABI UNJA. Dimana pada waktu itu mereka membayar uang
SPP sangat mahal, namun fasilitas yang mereka dapatkan tidaklah sepantas yang
mereka bayar. Kami dari pihak BEM pun mengumpulkan data-data yang berhubungan
dengan masalah tersebut. Setelah beberapa minggu mengumpulkan data, akhirnya
terkumpullah beberapa bukti yang menguatkan bahwa yang kami lakukan adalah
benar karena mengusut masalah tersebut.
Setelah data-data terkumpul, di pertengahan
jalan saya menjadi ragu untuk meneruskan pengusutan kasus ini. Dengan alasan,
karena saya khawatir ketika saya mengusutnya akan mengancam keberadaan saya di
kampus. Karena, keputusan akhir setelah mendapatkan data-data tersebut, kami
sepakat untuk menurunkan ketua program yang pada waktu itu menjabat, lalu
melaporkan kasus ini ke kejaksaan tinggi jambi. Wah.. ini adalah keputusan yang
sangat sulit saya putuskan. Akhirnya, menteri sosial & politik BEM KBM UNJA
pada waktu itu (Hadi Saputra) meyakinkan saya dengan kalimat yang membuat saya
terdiam dan langsung berani memutuskan untuk melanjutkannya. Ia mengatakan
kepada saya:
“Akh, ane tau antum takut dengan bapak itu.
Tapi, yang kita lakukan ini berdasarkan bukti-bukti yang nyata. Berarti, yang
kita lakukan ini adalah kebenaran. Yang lebih antum takutkan adalah Allah,
bukan bapak itu..”
Setelah mendengar itu, saya menjadi tidak
bimbang lagi dan langsung memutuskan:
“Iya, kita akan lanjutkan misi kita! Kita turunkan bapak
itu dari jabatannya”.
“Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah
Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang
(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan” (Q.s
Al-Ahzab : 39)
Nah, kisah di atas hanyalah salah satu dari
berbagai hal yang bisa kita jadikan ladang dakwah untuk membenarkan yang benar.
Permasalahan yang saat ini dihadapi oleh orang-orang yang hendak menegakkan
kebenaran adalah ia khawatir apa yang mereka lakukan itu salah.
Sebelum lebih jauh, saya mengutip sedikit
perkataan dosen saya. Beliau mengatakan bahwa ada 3 sumber kebenaran, yaitu
kebenaran menurut ilmu, kebenaran menurut budaya, dan kebenaran menurut agama.
Nah, kebenaran yang paling-paling tinggi derajatnya adalah kebenaran menurut
agama. Jadi, ketika agama mengatakan A, maka yang lainnya harus mengatakan A
pula. Namun jika menurut ilmu sains dan teknologi bahwa B lah yang benar, maka
B harus dikatakan tidak benar. Karena kita semua harus mengatakan bahwa A lah
yang benar. Sebab, agama adalah aturan yang tidak dapat diganggu gugat. Aturan
agama adalah aturan pokok. Bukan aturan turunan. Kalo di ilmu fisika tu namanya
ada besaran pokok dan ada besaran turunan. Nah, aturan agama adalah besaran
pokoknya.
Sebagai contoh, ketika ada makanan Z yang
ternyata itu baik menurut ilmu kesehatan, namun dari segi agama makanan Z itu
adalah haram, maka makanan Z tidak boleh dipergunakan. Begitu pula dengan
peraturan. Ketika agama mengatakan “lakukanlah A”. Tapi, kita malah melakukan
B. Meskipun B ini jika dilakukan tidak apa-apa menurut ilmu pengetahuan dan
kebiasaan yang ada. Tapi karena agama telah mengatakan “lakukanlah A”, maka B
harus diharamkan hukumnya untuk dilaksanakan. Dan begitulah seterusnya..
Nah, jika anda khawatir melakukan kebenaran
yang ternyata salah, maka pastikanlah apa yang anda lakukan itu berdasarkan
pada aturan agama. Pedomannya adalah Al-Qur’an dan Hadits. Pelajarilah itu!
Jika belum terlalu paham, bertanyalah kepada ahlinya. Jika anda sudah merasa
yakin-seyakin-yakinnya bahwa yang anda lakukan itu sudah berdasarkan pada
aturan Al-Qur’an dan Hadits, maka anda tidak perlu lagi takut untuk
melakukannya. Mengapa? Karena tidak ada yang berani membantah Al-Qur’an dan
Hadits. Sebab, aturan agama adalah kebenaran yang mutlak yang tidak bisa
dinegosiasi lagi.
Nah, sudah tau kan cara agar kita tidak takut
lagi menyampaikan kebenaran? Oleh karena itu, mulai hari ini tingkatkan
kualitas diri dengan ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman. Baik itu di
bidang sains dan ipteks, maupun di bidang agama. Jika kita bisa menguasai
kedua-duanya, maka kita akan bertindak lebih cepat dan tepat.
Semoga terinspirasi..
^_^
#Motifisika

Komentar
Posting Komentar