Langsung ke konten utama

Negara minim masalah

Pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar Sidik, Umar bin Khattab diberi amanah memegang jabatan qodhi (ketua jaksa agung). Namun suatu hari, Umar mendatangi Abu Bakar Sidik untuk menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan qodhi.

“Ya Amirul Mukminin, Aku ingin mengundurkan diri dari jabatan Qodhi. Terimalah permohonanku ini” ucap Umar

Mendengar apa yang disampaikan oleh Umar, Abu bakar pun terkejut seraya berkata:
“Wahai Umar, mengapa engkau mengajukan permohonan ini? Apakah amanah yang aku berikan ini terlalu berat?”
 
“Tidak sama sekali ya Amirul Mukminin. Aku sudah cukup lama memegang jabatan Qodhi ini. Namun, selama aku menjabat tak banyak orang yang mengadukan perihalnya kepadaku. Mereka sudah mengetahui haknya masing-masing. Sehingga, tidak ada yang mau mengambil hak orang lain. Justru, mereka malah mengurangi haknya untuk menambah hak orang lain. Ketika ditimpa musibah, mereka bersama-sama memberikan pertolongan. Mereka saling menasehati agar saling beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Dan mereka saling mengedepankan akhlak, etika dan moral mereka. Sehingga, tidak ada alasan satu sama lain untuk saling bermusuhan. Hasilnya, umat nyaris tidak mempunyai masalah yang harus dibawa ke pengadilan. Mereka sudah percaya bahwa Allah lah yang selalu mengawasinya. Oleh karena itu, aku memohon agar engkau menerima permohonanku ini”.

Subhanallah... inilah yang terjadi jika masyarakat indonesia benar-benar menjalankan syariat agamanya masing-masing. Tidak perlu lagi ada polisi di persimpangan jalan untuk merazia para pengendara motor, tidak perlu lagi ada KPK untuk menyelidiki para koruptor, tidak perlu lagi ada densus 88 untuk memburu para teroris, dan begitu seterusnya. Hal ini karena masyarakatnya sudah mengetahui haknya masing-masing. 

Mereka hanya fokus untuk melakukan kebaikan sebanyak mungkin dan mencegah orang lain untuk berbuat kerusakan di bumi ini. Mereka melakukan sesuatu yang tujuannya hanyalah untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT. Mereka percaya bahwa Allah selalu mengawasinya, sehingga mereka hidup di dunia ini seolah-olah diawasi oleh atasan. Akibatnya, mereka cenderung untuk berbuat baik dalam rangka menyenangi hati atasan dan tidak mau melakukan hal-hal yang dilarang oleh atasan agar tidak dimarahi.

Menurut agama islam, umat yang terbaik adalah mereka yang menyuruh orang lain untuk berbuat baik, mencegah orang lain agar tidak berbuat kerusakan, dan beriman kepada Allah swt. Sebagaimana firman Allah swt berikut :

“Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.s Ali Imran : 110)

Dari ayat di atas, ada 3 hal yang mesti dilakukan agar suatu negara menjadi negara terbaik.

Pertama, masyarakatnya saling menyuruh untuk berbuat kebaikan. Kata ‘menyuruh’ disini berarti subjeknya sudah terlebih dahulu berbuat kebaikan sebelum ia menyuruh orang lain. Bayangkan apabila suatu negara yang seluruh masyarakatnya berbuat kebaikan, tentu akan sulit ditemui berita tentang sandal yang hilang di mesjid, anak yang membunuh ibunya, motor yang dicuri, dan sebagainya. Sebab, yang mereka lakukan semuanya adalah kebaikan. Bahkan tidak hanya berbuat kebaikan, mereka juga saling nasehat-menasehati antar sesama agar senantiasa berbuat kebaikan selama hidup ini. Akhirnya, masyarakat menjadi berlomba-lomba untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya. Negara seperti inilah yang diinginkan oleh agama.

Kedua, masyarakatnya saling mencegah orang lain untuk berbuat kemungkaran. Kata ‘mencegah’ di sini berarti subjeknya juga sudah terlebih dahulu tidak berbuat kemungkaran sebelum ia mencegah orang lain. Bayangkan apabila suatu negara yang seluruh masyarakatnya mencegah orang lain untuk berbuat kemungkaran, pastilah kehidupan akan menjadi nyaman dan harmonis. Karena, semua masyarakat berani mengatakan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Dimana dalam hal ini, indikator kebenarannya adalah Al-qur’an dan Hadits, sebagaimana pernah diterapkan di negara Madinah pada zaman dahulu. Tidak ada yang mereka takuti, kecuali Allah swt.

Ketiga, masyarakatnya beriman kepada Allah swt. Apabila suatu negara yang masyarakatnya beriman kepada Allah, maka mereka akan cenderung bertindak sesuai dengan syariat agama. Sebagai contoh, misalnya agama mengatakan bahwa orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya di bumi ini, sebagaimana firman Allah dalam Q.s Al-Mujadilah : 11

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (Q.s Al-Mujadilah : 11)

Lalu, masyarakat pun akan berlomba-lomba untuk mendapatkan kedudukan tertinggi itu dengan selalu meningkatkan kualitas diri mereka dengan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Apabila kesadaran ini telah tumbuh di negara indonesia, maka tidak perlu lagi pemerintah menggaung-gaungkan agar masyarakat peduli akan pendidikan anak. Tidak perlu lagi ada himbauan untuk wajib belajar 9 tahun, karena agama sudah menyuruh kita untuk menuntut ilmu dari buayan hingga liang lahat. Dan masih banyak lagi contoh lain yang dapat dijadikan panduan.

Kita semua tentu ingin hidup di negara yang selalu diberkahi oleh Allah swt. Kita pun tentu ingin hidup di negara yang seluruh masyarakatnya beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Oleh karena itu, awali ini semua dari lingkungan kita, baik itu dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, komunitas, organisasi, dan sebagainya. Hiduplah dengan kehidupan yang bernuansa agama. 

Perlu digarisbawahi bahwa hidup beragama tidak mesti kemana-mana kita menggunakan peci, gamis, tasbih dan sebagainya. Itu hanya salah satunya saja. Hidup beragama berarti hidup seperti biasa, namun tetap menegakkan syariat dan aturan agama. Jadi, hiduplah seperti biasanya, namun lakukanlah sesuatu yang diperintahkan oleh agama dan tinggalkan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama.

Kita harus curiga mengapa akhir-akhir ini negera Indonesia ditimpa banyak musibah. Mulai dari banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa, kebakaran, dan sebagainya. Bisa jadi kita sebagai penduduk indonesia melupakan peringatan Allah sebagai berikut:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)

Ayat di atas dapat menjadi acuan kita untuk bisa merekonstruksi wajah indonesia menjadi negeri yang minim masalah. Hal itu semua bermula dari pemimpin yang berkualitas. Sebab, seseorang cenderung mau berubah apabila sosok figurnya juga melakukannya. Apalagi ia adalah pemimpin negeri ini. Oleh karena itu, kita harus cerdas untuk memilih sosok pemimpin pada pemilu tahun ini. Pilihlah pemimpin yang benar-benar berkualitas dan patut dijadikan tokoh teladan. Tidak hanya sosok pemimpin yang nasionalis, tapi juga agamis.
Semoga terinspirasi..
^_^
#Motifisika

Komentar