“11000...”
Sebuah kalimat singkat telah kuucapkan dua
jam yang lalu di telepon umum. Hari ini, sama seperti tujuh hari yang lalu, aku
masih terpaku di antara pepohonan. Sambil merelakan semilir angin membelai
tubuh kumuh milikku.
“Siapa?”
Itu yang selalu wanita itu ucapkan tiap
kali menerima telepon dariku. “Dasar sial. Kau bahkan tidak ingat suaraku.” Aku
membatin. Di balik pagar, ku tatap lekat wanita yang berada lima meter dariku.
Dia masih tetap cantik. Walau bagiku, dia sama seperti alga biru di lautan.
Begitu indah tapi merusak. Merampas oksigen yang ada di kehidupanku dan melukai
aku, ikan kecil.
1100O jiwa. Jumlah yang banyak untuk kotakecil
yang tengah aku injak ini. Kota yang indah, memang. Tapi penuh dengan udara
sesak dan pandangan benci padaku. Jika 11000 jiwa itu di masukkan kedalam angka
penting. Toh hanya dua angka saja yang penting, angka 11. Seperti aku, mungkin
aku ini urutan ke sekian sehingga aku tidak penting untuk ada disini.
Aku mengoyak dedaunan di depanku.
Hatiku panas. Wanita itu, seingatku, ia masih istriku. Tapi kini ku lihat ia
bergelayut manja pada seorang lelaki. Apakah ia tak sabar menunggu 10 tahun
saja? Menunggu aku keluar bebas dari jeruji besi. Oh, pantas saja ia tak pernah
menjengukku.
Seperti ada getir atau sejenis luka
menganga di dalam hatiku. Semakin sakit tersiram air garam penyesalan. Lelaki
itu memang pantas untuk istriku. Bukan seperti aku, perampok gila. Pelan-pelan
aku menghirup kembali udara. Kering. Padahal sudahsatu minggu aku bebas, tapi
rasanya aku tak pernah bebas. Pandangan benci mereka, istri pengkhianat, dan dosa.
Menjengkelkan. Pembalasan yang
kudapatkan sangat menjengkelkan. Seperti pertambahan panjangsebuah pegas.Keadaanku
sekarang, Sebanding dengan besarnya dosa yang ku lakukan. Mungkin lebih. Terseok-seok,
aku melangkah pergi. Perutku sudah tiga hari tak terisi.
“Kau mau cari makan dengan apa?” setan mengambang di kepalaku.
“bagaimana kalau kau mencuri saja? Kau jangan canggung! Toh kau juga pernah
melakukan hal yang lebih dari sekadar mencuri!”
Aku banting tas dekil milikku. Tidak.Aku harus berubah. “Halah, kau
selamanya berengsek. Dosamu terlalu banyak. Mau mulai dari mana? Sudahlah ikuti
saja alur hidupmu.” kembali setan berceloteh.
Setengah hati aku melangkahkan kaki menyebrangi jalan. Membiarkan kaki
melangkah ke mana saja tanpa arah. Tentu saja bukan pulang tujuanku. Karena di
sana bukan lagi rumahku. Mungkin ke jalanan. Tidur di antara dinginnya angin
malam tak masalah. Sudah biasa.
“Ya Tuhan, habislah aku!” seorang wanita setengah baya yang baru saja
aku lalui bicara sendiri. Ia sedang mendorong motor. Wajahnya tampak
kelelahan.Langkah ku hentikan.
“Kenapa?” kataku dingin.
“Saya tidak tau, padahal bensinnya masih utuh.” Jawabibu itu. Bingung.
Aku pandangi ibu itu sesaat. Dari gayanya, sepertinya ia orang kaya.
Mendorong motor saja sudah berkeringat hebat. Bahkan ia bodoh soal motor.
Mungkin bisa aku kibuli.
“Biar saya cek.” Kataku. Lantas aku memeriksa motor itu. Beruntung,
aku punya pengalaman bekerja di bengkel.“Busi motornya rusak.”
“Terus bagaimana? Saya harus ke rumah sakit, anak saya butuh donor
darah cepat..” keluhnya panik.
Sesaat aku merasa kasihan. Jahatnya aku ini.
“Ayo saya bantu dorong sampai bengkel terdekat..”
“Wah, ini namanya Emasuk ini!” seru Ibu itu.
Aku menganga. Seolah memberi isyarat bertanya. Ibu itu lantas
menggeleng. “Saya tidak bisa menerima kebaikan begitu saja tanpa bisa
membalas.”
Aku tersenyum. “Tapi, saya tidak mengharap balasan..”
Sambil tetap mendorong motor, lama-lama aku jadi tau kalau ibu ini
adalah guru Fisika. Apapun yang dibicarakannya, mendekati fisika. Sepertinya ia
suka sekali dengan profesinya. Itu bagus. Aku pun sebenarnya ingin punya
profesi yang bisa aku cintai. Bukan mantan napi seperti sekarang.
Tanpa terasa, bengkel telah di depan kami.
“Sudah bu, sampai sini, saya pamit.”
Sesaat Ibu itu menahanku. Ia masih merasa harus membalas kebaikanku
hingga aku bisa meyakinkan dia, aku tak butuh apa-apa. Kebaikan? Apakah benar, aku
sudah berbuat baik? Kalau begitu, anggap saja ini sebuah penebusan.
Aku kembali berjalan, tapi aku merasa sakit di bagian jantungku. Rasa
sakit yang beda. Sakit yang membuat rasa haru menyeruak dari dalam diriku.
Rasa-rasanya, sekalipun aku ini bukan angka penting di dunia ini, tapi
setidaknya, sesaat yang lalu aku ini angka penting bagi Ibu itu.Ternyata aku
berguna juga.
Tersadar, aku sudah berjalan begitu lama. Malam telah sangat larut dan
udara malam begitu dingin. Aku duduk di trotoar. Di depanku, restoran terlihat
masih terbuka untuk tamu manapun. Yah, tentu saja yang punya uang.
Ku alihkan pandanganku pada sebuah mobil sedan yang berhenti tak jauh
dari posisiku duduk. Dua orang lelaki mencurigakan tampak saling memberi kode.
Tatapan mereka mengarah pada mobil dengan jendela terbuka. Tampak si sopir
sedang berbicara dengan seorang lelaki di luar mobil. Sedangkan, dua orang itu
melangkah perlahan. Astaga! Mereka bertiga akan merampok!
Aku tak bisa menggerakkan tubuhku. Ini bukan urusanku. Tapi Aku tidak
bisa diam saja. Tiga lelaki itu kini telah berada persis di depan jendela.
Sebuah pistol telah mereka todongkan!dan aku tidak boleh diam!
Secepat kilat aku berlari ke arah mobil. Sepersekian detik aku
menendang tangan salah seorang dari mereka. Pistol terpelanting. Sepersekian
detik lagi aku yang ditendang, kemudian aku berhasil memberikan tinju pada
lelaki kedua. Kami berduel hebat. Adrenalinku melonjak!
Dooor..!
Seketika aku terperosok jatuh. Seorang dari mereka telah menembakku.
Tapi aku tidak merasakan sakit. Aku terlentang menghadap langit. Jadi, Tuhan,
apa dengan ini bisa menebus dosaku? Ku dengar Kau Maha Pemaaf. Apa kau mau
memaafkanku?
Sesaat aku dengar teriakan, “Rampok..! rampok...!” lalu terdengar
seperti ribuan langkah, “Panggil Ambulance..!”, dan perlahan rasa sakit mulai
merayap ke seluruh tubuhku. Aku susah bernafas. Pandanganku memudar. Semua jadi
gelap.
***
Dalam fisika, ada angka-angka penting. Sekalipun ada banyak angka,
tapi tetap saja ada angka penting dan tidak penting. Aku sudah tau itu. Hanya
saja seorang Ibu yang telah ku tolong, juga menceritakan tentang angka penting.
Katanya, jika kita di ibaratkan dengan bilangan fisika, sebanyak apapun nominal
yang kita miliki, tapi tetap saja hanya ada angka penting dan tidak penting.
Ada yang penting untuk diingat dan tidak diingat. Bagi Ibu itu, aku layak untuk
diingat..
Sejenak, aku merasa aku sudah mati. Jadi apakah aku tidak punya
kesempatan lagi untuk menebus kesalahan? Apakah aku bisa bertemu dengan Ibu itu
lagi, dan bilang terima kasih?
Perlahan, aku merasa sakit di bagian perutku. Aku terbangun.
Menakjubkan! Ternyata aku masih hidup.Aku menggerak-gerakkan kepalaku ke kanan,
ke kiri. Rupanya ini Rumah Sakit. Aku melihat bayangan seseorang. Sontak aku
kaget, seorang guru Fisika berdiri di sampingku bersama seorang lelaki di
dekatnya. Dia adalah Ibu tadi siang. Ya, tidak salah lagi..!
“Saya benar-benar mendapatkan Emasuk yang banyak dari
kamu.” Katanya tiba-tiba. Senyumnya tampak mengembang.
“Emasuk...?” kataku pelan. Aku masih belum benar-benar
sadar. Ah, ya. Ibu itu juga bercerita tentang Emasuk = Ekeluar.Sebuah
teori dimana energi yang masuk sesuai dengan energi yang keluar. Tapi aku belum
sepenuhnya paham.
“Terima kasih, tadi saya sangat panik. Tapi kamu datang menolong..”
sapa lelaki itu. Ternyata ia adalah suami Ibu itu. Lelaki yang sangat ramah.
Aku hanya bisa mengangguk. Sampai kami akhirnya bercakap-cakap. Aku
bersyukur anak lelaki mereka bisa segera
mendapatkan donor darah. Aku juga bersyukur bisa bertemu mereka lagi. Sampai
suami Ibu itu bertanya, “Apa kamu mau
menjadi supir pribadi saya?”
Aku terkesiap.
“Tolong jangan menolak lagi, kamu sudah kami anggap angka penting di
kehidupan kami. Kamu mau bekerja dengan kami?” Ibu guru Fisika menimpali.
Aku tidak bisa bicara apapun. Tidak untuk saat ini. Aku masih belum
bisa melupakan dosa-dosaku ketika datang sepasang manusia dengan tangan
terbukanya. Lalu bilang kalau aku ini penting. Seketika, air mataku menganak
sungai. Aku raih tangan mereka. Jadi ini ya maksudnya Energikeluar? Jadi
sebenarnya, ketika kita menolong orang lain, kita sedang menolong diri kita
sendiri. Jadi, Tuhan, aku ini penting ya? Kau memang baik. Terima kasih..**
By : Ika Y. Suryadi - Universitas Jambi
Komentar
Posting Komentar