Langsung ke konten utama

Butiran Mutiara

Siang yang sangat terik menjadi hari pertama gadis mungil itu menginjakkan kakinya di suatu universitas terkenal di kotanya. Ia sangat bangga bisa lulus tes Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Karena kesempatan itu hanya orang-orang tertentulah yang bisa mendapatkannya. Ia tak mau membuang waktu untuk memikirkan apakah jurusan tersebut cocok atau tidak dengan kemampuannya. Keyakinan penuh di dalam hatinya adalah bahwa orang yang serius dan focus menjalani suatu hal maka akan sukses.

 
Gadis itu bernama Tia. Usianya saat itu adalah 18 tahun. Hari-hari dilalulinya dengan ceria dan penuh semangat. Karena yang ada dalam fikirannya adalah membahagiakan kedua orang tuanya dengan prestasi,prestasi,dan prestasi. Hanya itu yang ada di benaknya. Meskipun saat menjalani perkuliahan berkali kali ia mendapatkan tekanan yang begitu menyakitkan bagi dirinya. Namun, ia tak mudah putus asa. Karena baginya tekanan itu ibarat sebuah pegas. Jika semakin kuat maka akan semakin terpental ke atas.

Tekanan pertama terbesar saat ia telah menjadi mahasiswa adalah saat pengajuan beasiswanya ditolak. Yang menjadi penyebab adalah teman sekamar Tia yang tinggal 1 atap di kontrakannya. Karena saat itu teman Tia lulus dan selanjutnya ada pengumuman bahwa beasiswa tersebut ada kuota tambahan. Namun info tersebut hanya disampaikan kepada mahasiswa yang telah menerima beasiswa itu. Jadi, mereka diperintahkan untuk menyampaikan info tersebut  kepada teman-teman yang dianggap membutuhkan beasiswa itu. Jadi, saat itu Tia tidak mendapat informasi. Dan di dalam hatinya menyimpan sakit hati yang begitu dalam pada teman satu kamarnya. Namun, setelah lama menyimpan sakit hati, ia merasa bahwa dendam tidak mengubah apapun dan hanya akan menyiksa dirinya sendiri. Ia mangubah keyankinan hatinya bahwasanya hidup itu hanya sekali. Dan sangat membuang buang waktu jika hanya dipakai untuk hal yang tidak bermanfaat. Karena setelah saat itu Tia sadar, bahwa orang yang sering mencoba menjatuhkannya adalah adalah orang-orang yang membuat dirinya menjadi kuat setiap harinya.

Cobaan belum berakhir. Tekanan yang ia dapatkan selanjutnya sangat bertubi-tubi. Empat beasiswa yang diusahakannya sekaligus ditolak semuanya. Saat itu ia benar-benar terpuruk. Di ibaratkan saat ia terpuruk itu ditambah lagi ia mendengarkan sebuah lagu yang sangat cocok dengan kondisinya. Karena menurutnya saat terpuruk kemungkinannya ada 2. Pertama, ia membutuhkan orang yang mempu memotivasinya untuk bangkit dan yang kedua adalah orang yang bernasib sama dengannya. Saat itu Tia tidak menemukan orang yang dimaksudkannya. Jadi keputusannya, ia henya mendengarkan lagu ::

 Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi….
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam..
Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang..
Aku seperti butiran debu…

Lagu tersebut diubah syair sedikit olehnya. Ia menangis seharian di kamarnya. Dan tak perduli apa dampak yang akan didapatkannya. Ia tak bosan-bosan menyalahkan orang di sekitarnya. Yang ada dalam hatinya adalah Ia adalah wanita paling sial di dunia ini. 

***

Sampai akhirnya tak terasa ia sudah duduk di semester 4. Dan menjalani kuliah tanpa ada beasiswa yang di dapatkannya. Padahal, ia adalah seorang anak yang ekonomi keluarganya dapat dikatakan pas-pasan. Dan ia sangat dongkol jika mengetahui orang-orang yang mendapatkan beasiswa adalah anak dari orang yang kaya raya. Bahkan saat peristiwa itu sudah 1 tahun berlalu, masih ada dendan sedikit jika ada peristiwa yang mengingatkannya pada beasiswa. Bahkan sulit rasanya bagi Tia untuk mau mengusahakan agar mendapat beasiswa. 

Pagi itu ia berangkat dengan hati tenang setelah melaksanakan sholat Dhuha di kontrakannya. Ia akan berusaha untuk melupakan kejadian yang telah satu tahun berlalu itu. Setibanya di kampus tercinta, ia melihat ada brosur tentang beasiwa yang tertempel di mading kampusnya. Saat itu ia berfikir matang-matang apakah ia akan mengikuti beasiswa tersebut atau tidak. Tia berceita kepada beberapa dosen dan bercerita pula kepada orang tuanya, apakah beasiswa tersebut akan didikutinya atau tidak. Setelah bercerita dengan dosen dan orang tuanya, petuah yang ia dapatkan yaitu::

Jika beasiswa tersebut kamu ajukan, kemungkinannya ada 2, LULUS dan TIDAK LULUS, tapi jika tidak kamu ajukan, kemungkinannya hanya 1 yaitu TIDAK LULUS.

***

Ternyata Tia terlalu lama berfikir dan tak terasa deadline tinggal 1 hari lagi. Dan ia menyiapkan dua mental dalam hatinya. Gagal atau Berhasil. Dan saat itu secepat kilat ia mengurus semua syarat-syarat untuk keperluan beasiswa itu. Meskipun seleksinya 3 kali penyaringan dan hanya 15 orang yang akan lulus di kampusnya yang mahasiswanya 21.000 itu. Tia pun sadar bahwa hidup yang ia jalani adalah tekanan. Yang akan menjadikan usahanya semakin besar.

W = PV 
 
W adalah usaha, P adalah jumlah tekanan sedangkan V adalah perubahan volume suatu zat. Maka, semakin besar tekanan yang diberikan , maka semakin besar pula usaha yang akan dilakukan. Begitu pun dengan volume. Dalam hal ini, tekanan yang ara dapatkan yaitu sudah berkali-kali gagal dalam proses seleksi beasiswa. Yaitu 5 kali gagal. Semakin banyak kegagalan itu, maka semakin besar pula volume pengetahuan dan wawasan serta pengalaman yang telah didaptkan yang berarti semakin besar juga usaha yang telah dilakukan. 

W = Pt
 
W adalah usaha, P adalah kekuatan dan t adalah rentang waktu. Semakin besar kekuatan yang besar akan didapatkan jika usaha yang dilakukan juga besar. Tia semakin yakin bahwa semakin besar usaha yang dilakukan untuk mencapai impian atau semakin besar usaha yang dilakukan maka hasil yang akan didapatkan semakin besar pula. 

***

Ia teringat akan nasehat dosennya, bahwa “setiap orang memilii kuota keberhasilan. Jika ia gagal, maka harus mencoba lagi. Gagal lagi, harus mencoba lagi sampai saatnya berhasil. Maka jika Tia 5 kali gagal, dan yang keenam baru berhasil, artinya Tia memiliki keberhasilan setelah 5 kali kuota gagal. Para ilmuan juga tidak langsung berhasil dalm mencari suatu formula. Bahkan ratusan kali gagal. Tia jangan kalah sama ilmuwan”.

Setelah itu Tia menjadi orang yang tak mudah putus asa. Syair lagu berhasil ia rubah lebih banyak..

Aku terjatuh tapi aku bangkit lagi..
Aku tenggelam tapi aku bisa renang
Aku tersesat tapi aku punya Allah
Akulah Tia,, butiran Mutiara..

By : Mutiara Azani - Universitas Jambi



Komentar