Saat matahari mulai terbenam di ufuk barat,
dan pancaran cahaya dari lautan berwarna oranye, dari sebuah gubuk kecil milik
nelayan tua yang terletak di tepi pantai, terdengarlah tangisan bayi yang
berbunyi sangat keras. Sang nelayan tua baru melabuhkan perahu kecilnya dengan
membawa 3 ekor ikan berukuran sedang pun bergegas lari ke gubuknya. Alangkah
terkejutnya sang nelayan tua itu ketika membuka tirai gubuknya yang terbuat
dari anyaman daun kelapa, dan melihat sang istri meninggal dengan
memangku
seorang bayi laki-laki yang masih berlumuran darah segar. Kaki nya pun mulai
lemah melangkah sambil berjalan lemas menuju sang isteri, air mata nya mengalir
deras di pipi tuanya,sambil mengelus wajah sang isteri alangkah terkejutnya
tangan sang anak bayi laki laki itu seketika menyentuh halus jemari sang
ayahnya. Dengan wajah polos nan duka sang anak menatap wajah ayahnya yang kusam
terkena angin malam lautan. Tak menunggu waktu yang lama, sang nelayan tua itu
memeluk erat dengan kasih sayang sang anak lelaki satu satunya itu.
“Terima kasih tuhan, engkaulah maha
bijaksana atas keputusan yang engkau berikan kepadaku, hambamu menerima nya
dengan lapang dada.” Ucap nelayan tua dengan nada yang terisak isak itu seraya
memeluk sang bayi lelakinya.
Dengan meratap sedih, sang nelayan
berbicara kecil terhadap sang bayinya,
“Abdul Wasik, namamu adalah nama
hamba-Nya yang ayah harapkan engkau memiliki pikiran yang luas.” Sang ayah
sedikit tersenyum dengan meratapi anaknya yang polos.
Sepuluh tahun berlalu, Pagi yang
dini dengan hembusan yang dingin menemani Wasik setiap paginya untuk menyambut
sang ayah yang pulang dari menangkap ikan,
“Wasik, ini ayah bawakan sahabat baru dari
samudera sana, dia tampaknya kelaparan, sana berikan dia sekeping biskuit.”
Ucap sang ayah dengan menyodorkan seekor anak kura kura laut.
Wasik dengan asyiknya bermain dengan
sahabat barunya. Namun, seketika pertanyaan muncul di benaknya.“Kamu berasal
dari mana ? apakah tidak ada teman yang menyerupaimu ?”
Wasik mengajaknya ke pantai, seketika
ia melihat sekumpulan kura kura yang berjalan dari bibir pantai menuju ke
perairan dalam. Dengan senyuman polosnya Wasik berbicara “Apakah kamu kenal
mereka ?”.
Hari beranjak siang sang ayah pun
mulai bangun, Wasik berlari ke arah pangkuan sang ayah. Wasik pun bertanya
“Yah, sahabatku ini memiliki teman yang serupa dan berjalan ke lautan, apakah
aku boleh membiarkannya bersama temannya?”.Sang ayah pun tersenyum senang. “Silahkan
nak, engkau mulai berfikir dewasa”. Sang ayah mengantarkan anaknya di bibir
pantai dan menatap puas kepada sang anak. “ Ayo sini akan ada sesuatu hal yang
ayah akan berikan padamu, dan semoga berguna kelak “Ucap sang ayah yang
mengajak ke gubuknya. Sang ayah mengajarkannya Membaca,menghitung dan
beribadah. “ Suatu hari nanti ketika ayah sudah tidak bersama mu lagi, ayah
akan bangga melihat mu di sana berdua dengan ibu mu ketika kau mempergunakan
apa yang telah ayah berikan kepadamu dengan niatan yang baik. “ Ujar Sang Ayah.
Ketika ayah harus segera kembali
melaut sang anak menitip pesan, “Yah, Apabila nanti di lautan sana ayah bertemu
ibu, sampaikan salam rindu ku yang hangat ini, katakan padanya aku akan
merindukannya dan mendoakanya agar ia bahagia di sana.” Sang Ayah yang terkejut menjawab dengan nada sedikit haru
“ Iya nak, akan ayah sampaikan, esok engkau tunggu ayah di dermaga ya, Akan ada
suatu berita penting yang akan ayah sampaikan.” Dengan senyum kecil ayahnya
kembali ke tengah lautan
Pagi pagi buta Wasik menunggu sang
ayah. Hingga mentari mulai sedikit terbit, ayahnya pun tak kunjung kembali.
Namun ia menemukan sebuah botol kecil yang tertutup rapat berbungkuskan secarik
kain kusam dan berisikan gulungan kertas.
Wasik pun membuka perlahan botol itu dan
mengetahui bahwa sedikit kain itu adalah milik ayahnya. Dengan tergesa gesa
Wasik mengambil gulungan kertas tersebut.
Wasik
anakku, Ayah telah menyampaikan rasa rindu ini kepada ibumu,ribuan doa telah
ayah haturkan kepada tuhan agar ibumu bahagia di sana, secarik kain ini adalah
kenangan untuk mu agar engkau selalu mengingat Ayah, dan apa yang telah ayah
berikan. Semoga
engkau bahagia di sana nak.
Salam hangat,
Ayahanda Abd.Wasik bin Khattab
Dengan hati yang mulai terpecah dan
jantung yang mulai berdegup kencang serta aliran darah yang mengalir deras bagaikan
air terjun Sigura gura. Wasik pun terbaring dan berteriak sangat kencang.
“Ayaaaaaaaaaah !! Kenapa secepat iniengkau
meninggalkanku, aku masih ingin banyak belajar dari mu”.
Tahun demi tahun berlalu. Saat ini
Wasik beranjak dewasa. Ia sudah siap menjalani hidup. Ia bergegas ke pulau di
seberang lautan. Di sana terdapat sebuah kota kecil. Sebelum berangkat, Wasik
menulis secarik kertas dan memasukkanya ke dalam botol kecil, dan
menghanyutkannya.
Ayah,
hari ini anakmu akan merantau ke negeri orang ayah, semoga apa yang telah
engkau berikan selama ini cukup untuk memberikan modal kecil untuk hidup di
dunia ini
Salam hangat untuk Ayah dan
Ibu tercinta
Abdul Wasik
Setibanya di kota kecil, Wasik
mendapatkan pekerjaan menjadi buruh
angkat. Suatu hariIa terpeleset di atas sebuah plastik. Sesosok badan bertubuh
kekar membawa tongkat berjalan kearahnya, dan ternyata itu adalah seorang
mandor kapal yang teramat kejam.“Hei anak muda, Kamu pikir kapal ini punya
bapak mu ” teriak sang mandor dengan keras.
Mendengar kata seperti itu, Wasik berdiri
dan menghentak plastik di bawah kakinya lalu memukul kaca jendeladengan keras hingga
pecah. Wasik pun keluar dari pekerjaan itu. Ia berjalan ke sebuah perpustakaan
kecil di pinggir kota itu, dan membaca pengumuman bahwa akan di adakan
sayembara sulap yang mana hadiahnya akan di berikan langsung dari Sang raja,
tetapi dengan persyaratan mampu mengalahkan anak sang raja yang juga pesulap
terkenal di kota kecil tersebut. Wasik masuk kedalam perpustakaan kota
tersebut, dengan tergesa-gesa berlari kearah penjaga perpustakaan tersebut
namun, Ia berpapasan dengan wanita berparas cantik, Seketika itu juga pikiran
Wasik bagaikan melayang terbang tinggi melalang buana hingga langit ke 7 yang
penuh bidadari. “Hey pemuda jalang, jangan kau menyentuhku.” Ucap wanita yang
berpapasan dengan Wasik tadi. Seketika khayalan Wasik tertarik ke lubang neraka
dunia. Wasik pun dengan nada yang gugup meminta maaf “Ma.. ma.. maaf mbak, ssss
sungguh saya tadi tidak, ee tidak sengaja mbak, ss sekali la lagi sss saya minta maaf mbak”.
Dengan tampang angkuh wanita berparas cantik
tadi mempalingkan muka dan berlenggak pergi dari hadapan Wasik.
“Dasar !! Angkuh sekali hidup mu
bagaikan Bintang tak butuh malam”.
Namun, Wasik segera bergegas menuju
penjaga perpustakaan tersebut dan segera mendaftarkan diri.
Hari yang di tunggu Wasik pun tiba,hingga
seorang pembawa acara pun memamanggil nama Wasik, “Baiklah penampilan
berikutnya “Kita panggilkan”Pembawa acara tersebut sedikit hening dan
terdiam, “Abdul Wasik”. Wasik pun segera
menuju ke panggung, “Baik lah para hadirin, saya akan menerbangkan sebuah
Balon,” Ia memanggil seorang penonton untuk naik ke panggung agar memastikan
bahwa balon tersebut memang tidak bisa terbang sebelumnya. Ia menggesekan sarung
tangannya dengan berpura-pura membaca mantera, dan secara perlahan ia
melepaskan balon dari belaianya dan seketika balon tersebut terbang secara
perlahan. Sang raja Berdiri dari kursi singgasananya dan memberikan tepuk
tangannya. Dalam benak Wasik, Inilah akibat adanya gesekan antara unsur
negatif pada balon dan Unsur Positif pada Sarung tangan. Lalu pembawa
acara memberikan ucapan selamat kepada Wasik.
Hingga pada saatnya pengumuman yang
lolos ke babak final Sang Raja pun menunjuk Wasik sebagai pemenang.
Keesokan harinya Wasik datang pada
puncak acara, dimana Ia harus berhadapan dengan anak sang raja. Seseorang
tampak Memakai jubah merah dengan renda berwarna emas dan bertaburan berlian.
Orang itu pun tampak melepas jubahnya,Ternyata dia adalah Wanita yang sempat
berpapasan dengan wasik beberapa hari yang lalu di sebuah perpustakaan. Sang
Wanita itu tampaknya bermain dengan seekor kelinci putih yang akan dia potong
kepalanya, namun sayangnya kelinci tersebut memang terpotong sungguhan, tampak
wanita itu malu dan menangis akan kegagalan penampilannya. Semua penonton
terdiam. Namun Wasik berusaha untuk menghibur wanita cantik tersebut dengan
mengajak nya bermain sulap bersama, Ia mengambil sebuah balon dan menusuknya
dari samping hingga pecah. Kemudian dia meniup sebuah balon lagi dan
mempersilahkan Wanita tersebut untuk menusuk balon tersebut di bagian atasnya
hingga menembus bagian bawahnya. Dan Ajaib, balon tersebut tidak pecah. Wasik
pun bersyukur dalam hatinya dan mengatakan “Bahwa benda yang lebih padat dan
kaku akan lebih mudah pecah,karena benda tersebut memiliki tegangan dan
memiliki batas elastis”. Sang raja pun menunjuk Wasik sebagai pemenang,
dan pembawa acara kemudian memeluknya dan sedikit berbisik kepadanya.
“Selamat nak, kamu telah belajar
banyak” ucap Pembawa acara.
Wasik pun sedikit heran, dan pembawa
acara melepaskan jubahnya. Ternyata..
“Ayaaaaaaaaaaaaah” Teriak wasik.
Dengan erat ia memeluk pembawa acara
tersebut yang ternyata ayahnya. “Mengapa ayah lakukan ini padaku ?“ tanya Wasik.
Sang raja lalu memberikan sebuah hadiah Vila mewah beserta fasilitas lengkapnya
di tengah kota dan puluhan karung emas kepada Wasik.
“Maaf nak, ketika itu ayah di tabrak
oleh kapal sang raja, karena sang raja
ingin meminta maaf, maka sang raja mengangkat ayah sebagai saudaranya. Namun,
ayah percaya bahwa kita akan bertemu lagi, dan melihatmu tumbuh sebagai orang
yang sukses”.
=TAMAT=
My Quotes:
“Sebuah benda akan tetap diam, kecuali ada resultan gaya yang tidak sama dengan
0 yang menggerakkanya. Begitu juga dengan kita sebagai manusia, kita akan tetap
diam jika hanya berbicara kosong tanpa bekerja semampunya untuk bergerak dan
berjalan lebih baik.”
By : Canaham Surya Akbar - Universitas Jambi
Komentar
Posting Komentar