Langsung ke konten utama

MIRACLE OF PHYSICS


Saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, dan pancaran cahaya dari lautan berwarna oranye, dari sebuah gubuk kecil milik nelayan tua yang terletak di tepi pantai, terdengarlah tangisan bayi yang berbunyi sangat keras. Sang nelayan tua baru melabuhkan perahu kecilnya dengan membawa 3 ekor ikan berukuran sedang pun bergegas lari ke gubuknya. Alangkah terkejutnya sang nelayan tua itu ketika membuka tirai gubuknya yang terbuat dari anyaman daun kelapa, dan melihat sang istri meninggal dengan
memangku seorang bayi laki-laki yang masih berlumuran darah segar. Kaki nya pun mulai lemah melangkah sambil berjalan lemas menuju sang isteri, air mata nya mengalir deras di pipi tuanya,sambil mengelus wajah sang isteri alangkah terkejutnya tangan sang anak bayi laki laki itu seketika menyentuh halus jemari sang ayahnya. Dengan wajah polos nan duka sang anak menatap wajah ayahnya yang kusam terkena angin malam lautan. Tak menunggu waktu yang lama, sang nelayan tua itu memeluk erat dengan kasih sayang sang anak lelaki satu satunya itu.

            “Terima kasih tuhan, engkaulah maha bijaksana atas keputusan yang engkau berikan kepadaku, hambamu menerima nya dengan lapang dada.” Ucap nelayan tua dengan nada yang terisak isak itu seraya memeluk sang bayi lelakinya.

Dengan meratap sedih, sang nelayan berbicara kecil terhadap sang bayinya,

            “Abdul Wasik, namamu adalah nama hamba-Nya yang ayah harapkan engkau memiliki pikiran yang luas.” Sang ayah sedikit tersenyum dengan meratapi anaknya yang polos.

            Sepuluh tahun berlalu, Pagi yang dini dengan hembusan yang dingin menemani Wasik setiap paginya untuk menyambut sang ayah yang pulang dari menangkap ikan,

             “Wasik, ini ayah bawakan sahabat baru dari samudera sana, dia tampaknya kelaparan, sana berikan dia sekeping biskuit.” Ucap sang ayah dengan menyodorkan seekor anak kura kura laut. 

            Wasik dengan asyiknya bermain dengan sahabat barunya. Namun, seketika pertanyaan muncul di benaknya.“Kamu berasal dari mana ? apakah tidak ada teman yang menyerupaimu ?”

            Wasik mengajaknya ke pantai, seketika ia melihat sekumpulan kura kura yang berjalan dari bibir pantai menuju ke perairan dalam. Dengan senyuman polosnya Wasik berbicara “Apakah kamu kenal mereka ?”. 

            Hari beranjak siang sang ayah pun mulai bangun, Wasik berlari ke arah pangkuan sang ayah. Wasik pun bertanya “Yah, sahabatku ini memiliki teman yang serupa dan berjalan ke lautan, apakah aku boleh membiarkannya bersama temannya?”.Sang ayah pun tersenyum senang. “Silahkan nak, engkau mulai berfikir dewasa”. Sang ayah mengantarkan anaknya di bibir pantai dan menatap puas kepada sang anak. “ Ayo sini akan ada sesuatu hal yang ayah akan berikan padamu, dan semoga berguna kelak “Ucap sang ayah yang mengajak ke gubuknya. Sang ayah mengajarkannya Membaca,menghitung dan beribadah. “ Suatu hari nanti ketika ayah sudah tidak bersama mu lagi, ayah akan bangga melihat mu di sana berdua dengan ibu mu ketika kau mempergunakan apa yang telah ayah berikan kepadamu dengan niatan yang baik. “ Ujar Sang Ayah.

            Ketika ayah harus segera kembali melaut sang anak menitip pesan, “Yah, Apabila nanti di lautan sana ayah bertemu ibu, sampaikan salam rindu ku yang hangat ini, katakan padanya aku akan merindukannya dan mendoakanya agar ia bahagia di sana.” Sang Ayah  yang terkejut menjawab dengan nada sedikit haru “ Iya nak, akan ayah sampaikan, esok engkau tunggu ayah di dermaga ya, Akan ada suatu berita penting yang akan ayah sampaikan.” Dengan senyum kecil ayahnya kembali ke tengah lautan

            Pagi pagi buta Wasik menunggu sang ayah. Hingga mentari mulai sedikit terbit, ayahnya pun tak kunjung kembali. Namun ia menemukan sebuah botol kecil yang tertutup rapat berbungkuskan secarik kain kusam dan berisikan gulungan kertas.

Wasik pun membuka perlahan botol itu dan mengetahui bahwa sedikit kain itu adalah milik ayahnya. Dengan tergesa gesa Wasik mengambil gulungan kertas tersebut.

 Wasik anakku, Ayah telah menyampaikan rasa rindu ini kepada ibumu,ribuan doa telah ayah haturkan kepada tuhan agar ibumu bahagia di sana, secarik kain ini adalah kenangan untuk mu agar engkau selalu mengingat Ayah, dan apa yang telah ayah berikan. Semoga engkau bahagia di sana nak.
                                                Salam hangat, Ayahanda Abd.Wasik bin Khattab

            Dengan hati yang mulai terpecah dan jantung yang mulai berdegup kencang serta aliran darah yang mengalir deras bagaikan air terjun Sigura gura. Wasik pun terbaring dan berteriak sangat kencang.

 “Ayaaaaaaaaaah !! Kenapa secepat iniengkau meninggalkanku, aku masih ingin banyak belajar dari mu”.

            Tahun demi tahun berlalu. Saat ini Wasik beranjak dewasa. Ia sudah siap menjalani hidup. Ia bergegas ke pulau di seberang lautan. Di sana terdapat sebuah kota kecil. Sebelum berangkat, Wasik menulis secarik kertas dan memasukkanya ke dalam botol kecil, dan menghanyutkannya.

Ayah, hari ini anakmu akan merantau ke negeri orang ayah, semoga apa yang telah engkau berikan selama ini cukup untuk memberikan modal kecil untuk hidup di dunia ini 

Salam hangat untuk Ayah dan Ibu tercinta 
Abdul Wasik

            Setibanya di kota kecil, Wasik mendapatkan pekerjaan  menjadi buruh angkat. Suatu hariIa terpeleset di atas sebuah plastik. Sesosok badan bertubuh kekar membawa tongkat berjalan kearahnya, dan ternyata itu adalah seorang mandor kapal yang teramat kejam.“Hei anak muda, Kamu pikir kapal ini punya bapak mu ” teriak sang mandor dengan keras.     

Mendengar kata seperti itu, Wasik berdiri dan menghentak plastik di bawah kakinya lalu memukul kaca jendeladengan keras hingga pecah. Wasik pun keluar dari pekerjaan itu. Ia berjalan ke sebuah perpustakaan kecil di pinggir kota itu, dan membaca pengumuman bahwa akan di adakan sayembara sulap yang mana hadiahnya akan di berikan langsung dari Sang raja, tetapi dengan persyaratan mampu mengalahkan anak sang raja yang juga pesulap terkenal di kota kecil tersebut. Wasik masuk kedalam perpustakaan kota tersebut, dengan tergesa-gesa berlari kearah penjaga perpustakaan tersebut namun, Ia berpapasan dengan wanita berparas cantik, Seketika itu juga pikiran Wasik bagaikan melayang terbang tinggi melalang buana hingga langit ke 7 yang penuh bidadari. “Hey pemuda jalang, jangan kau menyentuhku.” Ucap wanita yang berpapasan dengan Wasik tadi. Seketika khayalan Wasik tertarik ke lubang neraka dunia. Wasik pun dengan nada yang gugup meminta maaf “Ma.. ma.. maaf mbak, ssss sungguh saya tadi tidak, ee tidak sengaja mbak, ss sekali la lagi  sss saya minta maaf mbak”.

 Dengan tampang angkuh wanita berparas cantik tadi mempalingkan muka dan berlenggak pergi dari hadapan Wasik. 

            “Dasar !! Angkuh sekali hidup mu bagaikan Bintang tak butuh malam”.

            Namun, Wasik segera bergegas menuju penjaga perpustakaan tersebut dan segera mendaftarkan diri.

         Hari yang di tunggu Wasik pun tiba,hingga seorang pembawa acara pun memamanggil nama Wasik, “Baiklah penampilan berikutnya “Kita panggilkan”Pembawa acara tersebut sedikit hening dan terdiam,  “Abdul Wasik”. Wasik pun segera menuju ke panggung, “Baik lah para hadirin, saya akan menerbangkan sebuah Balon,” Ia memanggil seorang penonton untuk naik ke panggung agar memastikan bahwa balon tersebut memang tidak bisa terbang sebelumnya. Ia menggesekan sarung tangannya dengan berpura-pura membaca mantera, dan secara perlahan ia melepaskan balon dari belaianya dan seketika balon tersebut terbang secara perlahan. Sang raja Berdiri dari kursi singgasananya dan memberikan tepuk tangannya. Dalam benak Wasik, Inilah akibat adanya gesekan antara unsur negatif pada balon dan Unsur Positif pada Sarung tangan. Lalu pembawa acara memberikan ucapan selamat kepada Wasik.

            Hingga pada saatnya pengumuman yang lolos ke babak final Sang Raja pun menunjuk Wasik sebagai pemenang.

            Keesokan harinya Wasik datang pada puncak acara, dimana Ia harus berhadapan dengan anak sang raja. Seseorang tampak Memakai jubah merah dengan renda berwarna emas dan bertaburan berlian. Orang itu pun tampak melepas jubahnya,Ternyata dia adalah Wanita yang sempat berpapasan dengan wasik beberapa hari yang lalu di sebuah perpustakaan. Sang Wanita itu tampaknya bermain dengan seekor kelinci putih yang akan dia potong kepalanya, namun sayangnya kelinci tersebut memang terpotong sungguhan, tampak wanita itu malu dan menangis akan kegagalan penampilannya. Semua penonton terdiam. Namun Wasik berusaha untuk menghibur wanita cantik tersebut dengan mengajak nya bermain sulap bersama, Ia mengambil sebuah balon dan menusuknya dari samping hingga pecah. Kemudian dia meniup sebuah balon lagi dan mempersilahkan Wanita tersebut untuk menusuk balon tersebut di bagian atasnya hingga menembus bagian bawahnya. Dan Ajaib, balon tersebut tidak pecah. Wasik pun bersyukur dalam hatinya dan mengatakan “Bahwa benda yang lebih padat dan kaku akan lebih mudah pecah,karena benda tersebut memiliki tegangan dan memiliki batas elastis”. Sang raja pun menunjuk Wasik sebagai pemenang, dan pembawa acara kemudian memeluknya dan sedikit berbisik kepadanya. 

            “Selamat nak, kamu telah belajar banyak” ucap Pembawa acara.

            Wasik pun sedikit heran, dan pembawa acara melepaskan jubahnya. Ternyata..

            “Ayaaaaaaaaaaaaah” Teriak wasik. 

Dengan erat ia memeluk pembawa acara tersebut yang ternyata ayahnya. “Mengapa ayah lakukan ini padaku ?“ tanya Wasik. Sang raja lalu memberikan sebuah hadiah Vila mewah beserta fasilitas lengkapnya di tengah kota dan puluhan karung emas kepada Wasik.

            “Maaf nak, ketika itu ayah di tabrak oleh  kapal sang raja, karena sang raja ingin meminta maaf, maka sang raja mengangkat ayah sebagai saudaranya. Namun, ayah percaya bahwa kita akan bertemu lagi, dan melihatmu tumbuh sebagai orang yang sukses”.

=TAMAT=

My Quotes: “Sebuah benda akan tetap diam, kecuali ada resultan gaya yang tidak sama dengan 0 yang menggerakkanya. Begitu juga dengan kita sebagai manusia, kita akan tetap diam jika hanya berbicara kosong tanpa bekerja semampunya untuk bergerak dan berjalan lebih baik.”

By : Canaham Surya Akbar - Universitas Jambi

Komentar