Beberapa hari yang lalu, saya
menemukan sebuah kalimat yang cukup menarik dari tulisan Andreas Harefa. Saya
pun langsung mengikatnya di sebuah buku. Tulisannya adalah sebagai berikut:
“Untuk menaikkan angka penjualan, tingkatkan kepuasan pelanggan”
Wah, ini kan sejalan dengan hukum
newton III dalam ilmu fisika yang bunyinya adalah sebagai berikut :
“Apabila benda A memberikan suatu gaya pada benda B, maka benda B akan
memberikan gaya pada benda A yang besarnya sama namun arahnya berbeda”
Artinya, untuk menaikkan gaya yang
diterima oleh benda A, maka benda A harus memberikan yang lebih pula dong pada
benda B. Ya kan? :D
Nah, Dua kutipan di atas
menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini. Setelah dilakukan musyawarah mufakat
yang dilakukan oleh seluruh peserta penuh yang hadir pada sidang penetapan
judul tulisan ini dalam imajinasi saya, akhirnya setelah menimbang dan
seterusnya, mengingat dan seterusnya, memutuskan dan seterusnya, menetapkan
bahwa tulisan ini berjudul FISIKONOMI atau “Fisika-Ekonomi”. Wah, Koq ada
ekonomi nya? Yapp.. karena kata “menjual” kan identik dengan ilmu ekonomi.
Sedangkan kata “gaya” identik dengan ilmu fisika. Jadi, Kalo kedua kata
tersebut digabungkan, maka akan menjadi “menjual gaya”... loh? -,-“..
“IMAJINASI APA
INIIIIII.....???!!!!”
Oh iya, maksud saya bukan itu yang
digabungkan! Tapi, nama ilmunya.. Yaitu, ilmu
fisika feat ilmu ekonomi. Waaah, cihuy banget dah.. pke’ istilah “feat”
pulak.. Kayak penyanyi aja.. hehe..
“SUDAAAHHH!! TOLOOONNG KEMBALIKAN
SAYA KE PEMBAHASAAAANN!!”
“Siaaapp mas!!! ^,^”
Pada tulisan kali ini, saya hanya
ingin mengajak pembaca mengambil hikmah dari cerita singkat berikut. Karena
ceritanya ini sangat singkat, jadi sebelum cerita ini selesai diceritakan,
jangan ada yang protes atau bahkan teriak-teriak belagak’an sambil ngomong “The point of information pimpinan sidang”
dari belakang. Sebab, islam tidak mengajarkan kita untuk memotong pembicaraan
orang lain. Meskipun kita adalah orang yang
benar, tapi perintah agama harus dinomorsatukan ya... ^_^
Oke, Jadi gini pembaca sekalian..
beberapa minggu yang lalu, saya ke rumah dosen untuk sharing mengenai teknik
menjadi entrepreneur. Maklum,. Wisuda kan belum.. jadi, kalo ditanya ama orang
“Apa pekerjaanmu di kampus saat ini?” saya jawab aja “Penjual buku keliling...”
hehe.. meskipun Cuma jual 1 buku, yaitu buku FISIKA KESUKSESAN. Tapi, kan
namanya penjual buku juga. Sebenarnya ada sebutan yang lebih keren sih. Yaitu, “Saya
adalah penulis buku”. Tapi, kalo dijawab dengan “Saya adalah penjual buku”,
kayaknya agak lebih rendah hati deh.. Rasulullah kan mengajarkan umatnya untuk
rendah hati. Jadi, ikut-ikutan aja apa perintah beliau. Nah, jadi, Kalo mau
beli buku FISIKA KESUKSESAN, sms atau inbox aja saya lewat facebook ya.. Harganya
cuma 35 ribu koq.. full motivasi deh.. :D
“Woyyyy.... sekarang ini lagi
live... Lu ngapain jual produk?” -,-“
“Hah?!”
Oke pemirsa sekalian. Kita lanjut
perbincangan kita pada hari ini..
Jadi, ketika saya ke rumah dosen
saya pada waktu itu, beliau bercerita tentang bagaimana orang minang ketika
berjualan. Kira-kira begini lah kalimat beliau pada waktu itu :
“Kalo orang minang jualan, yang
dijualnya tidak hanya produk. Tapi lebih menekankan pada menjual budi. Ketika
mereka menjual 1 buah kelapa seharga Rp.5.000,- pasti mereka akan menjual 4
buah kelapa seharga Rp.15.000,-. Dan begitu seterusnya... Wah, Rugi dooonngg? Memang
terlihat rugi jika dilihat dari kasat mata. Tapi, secara tidak langsung pembeli
akan merasa berhutang budi kepada penjual tersebut. Tentu besok-besoknya,
pembeli tersebut akan kembali membeli kelapa padanya, bukan pada orang lain.
Sehingga, ia pun akan terus-menerus membeli kelapa dengan penjual tersebut.
Akhirnya, si pembeli tersebut menjadi sumber rezeki bagi si penjual”.
Oke pembaca.. itulah ceritanya..
singkat kan? Sekarang waktunya mengambil hikmah dari kisah di atas. Ada 2 hal
yang dapat diambil dari kisah tersebut. Pertama,
lakukanlah sesuatu yang membuat orang lain berhutang budi pada kita, tapi niat
utama kita bukanlah itu. Kedua, yang
mengatur rezeki kita bukanlah kita, tapi Allah swt. Terbukti kalo
hitung-hitungan kita tidaklah sesuai dengan hitung-hitungan Allah swt. kesimpulannya, tugas kita adalah melakukan sesuatu.
Mengenai nantinya orang akan membalas budi kita apa tidak, itu kita serahkan
pada Allah swt. Biarlah Allah yang menilai dan menetapkan, bukan mereka!
Naaahhh... jadi kalo pengen kita
mendapatkan sesuatu yang besar, maka kita harus melakukan yang besar pula. Jika
kita ingin disukai oleh orang di sekitar kita, maka kita harus memberikan
sesuatu kepadanya yang membuat mereka suka dengan kehadiran kita. Kita harus
bisa menjadi orang yang dinantikan kedatangannya dan tetap dirindukan ketika
kita tidak ada di sana. Hidup ini adalah memberi sebanyak-banyaknya, bukan
menerima sebanyak-banyaknya.
“Tapi, gue kan mahasiswa.. bokek
broghh..”
Menurut ilmu fisika, tidak
dikatakan bahwa “untuk mendapatkan sesuatu maka anda harus memberikan uang
kepada orang lain”. Nggak koq! Yang ada adalah if you do the best, you will get the best.. gitu lah kira-kira kalo
diterjemahkan ke bahasa daerah tempat senior saya tinggal waktu zaman-zamannya
masih muda, yaitu mas Sir Isaac Newton.. meskipun di inggris beliau tinggal di
desa, tapi bahasa inggrisnya lancar banget dah... (#kselak botol -,-“)
Yapp, kita tidak dituntut untuk
memberikan uang untuk mendapatkan rezeki dari Allah swt, tapi kita dituntut
untuk memberikan apa yang kita punya. Kalo mahasiswa kesulitan berbagi uang,
kan bisa berbagi ilmu. Kalo merasa punya sedikit ilmu, kan bisa berbagi
pengalaman. Kalo merasa nggak punya pengalaman, maka ciptakanlah pengalaman
pertama. Intinya adalah, jika ingin orang lain menilai kita sebagai orang yang
dermawan, maka berbagilah! Namun jika ingin orang lain menilai kita sebagai
pengemis, maka meminta-mintalah!
Oh iya,. Ketahuilah! Hal yang
paling mudah untuk dibagi-bagi adalah ILMU. Memang ilmu tidak ada harganya,
tapi ilmu sangat berharga. Tentunya, kalo pengen membagikan ilmu kepada orang
lain, terlebih dahulu kita harus memiliki ilmu juga dong.. sedikit nggak apa,
minimalnya ada, dan maksimalnya tak terhingga.. Nah, kalo sebelumnya saya
memperingatkan kita agar tidak menjadi pengemis, tapi dalam hal menuntut ilmu
kayaknya kita harus menjadi pengemis ilmu deh.. Oleh karena itu, jadilah
pengemis dalam hal menuntut ilmu, namun tetap menjadi dermawan dalam hal
memberikan ilmu..
Semoga terinspirasi..
^_^
Komentar
Posting Komentar