Langsung ke konten utama

Strategi Manajemen Isu di Era Digital Telaah dari Kasus SFA vs Pemkot Jambi

JambiCerdas.com (Kamis, 8 Juni 2023) - Media Sosial sedang dihebohkan dengan kasus yang diangkat oleh Syarifah Fadyah Alkaff (SFA) mengenai apa yang dialami oleh neneknya kepada pemerintah kota Jambi. Secara umum, SFA menuntut Pemkot Jambi bertanggung jawab terhadap aktivitas dari PT. Rimba Palma Sejahtera Lestari.

Kasus ini Semakin viral ketika SFA dilaporkan karena telah melanggar UU ITE. Namun menjadi blunder karena SFA masih berkedudukan sebagai siswi SMP. Hal ini membuat Menkopolhukam Mahfud MD pun ikut melirik kasus ini. Bahkan banyak media nasional mengangkat kasus ini.

Atas viralnya kasus ini, ternyata endingnya sangat sesuai dengan harapan netizen. Yakni, kedua pihak mencabut laporannya.

Dari kasus ini kita belajar bahwa betapa kuatnya pengaruh media sosial dalam memenuhi pikiran publik. Kita yang awalnya tidak terlalu peduli dengan kasus ini akhirnya terseret pada pusaran viralnya kasus ini. 

Setidaknya ada 5 hal yang menjadi pendorong mengapa kasus ini bisa viral.

Pertama, konsistensi SFA untuk memviralkan kasus ini. SFA tidak hanya sekali dua kali mempresentasikan narasinya kepada publik. Berkali-kali ia sampaikan ke media. Akhirnya, apa yang ia sampaikan diviralkan oleh algoritma media sosial.

Kedua, kemampuannya menciptakan momentum. Kita lihat aksi SFA ini Momentumnya pas. Apakah memang telah SFA persiapkan ataukah secara tiba-tiba. Tapi menurut saya SFA benar-benar mensettingnya. Pernah ada satu video SFA yang viral ketika Syarif Fasha sedang dikerumuni wartawan, ia langsung berteriak untuk menuntut haknya. Akhirnya wartawan yang berada disana pun mengangkat aksinya.

Ketiga, penggunaan retorika yang memancing emosi. Jika SFA tidak menggunakan kata-kata yang memancing emosi, biasanya tidak terlalu direspon. Kita lihat sebelumnya. Saat belum dilaporkan, SFA seringkali berpendapat namun tak terlalu digubris. Namun ketika SFA menggunakan narasi Pemkot jambi merupakan "kerajaan fir'aun dan iblis", barulah pihak Pemkot bereaksi yang akhirnya menjadi blunder.

Keempat, keterlibatan influencer media social secara tidak langsung. Awal mula viralnya kasus ini adalah ketika SFA merasa dilecehkan oleh salah satu influencer Jambi. Hal ini membuat publik heboh. Lalu kasus ini semakin viral ketika Mahfud MD turut berkomentar. Bahkan pengacara kondang Hotman Paris pun juga turut berkomentar. Didukung pula, media nasional yang terus menggorengnya. Efek bola salju ini menjadi kekuatan tersendiri bagi SFA. Simpatik pun bermunculan meskipun banyak yang tidak tau bagaimana latar belakang kejadiannya. Sehingga, kasus ini pun semakin viral.

Kelima, kasus ini merupakan pertarungan antara penguasa vs rakyat. Kondisi ini tentu ada pihak yang memanfaatkannya untuk kepentingan politik 2024. Apalagi Syarif Fasya digadang-gadang akan maju pada pertarungan pileg DPR RI. Bahkan, ada juga opini yang beredar bahwa Syarif Fasya tujuan utamanya adalah menjadi Gubernur Jambi, namun diendorse melalui pileg DPR RI. Kita lihat saja endingnya bagaimana. Yang jelas, kondisi ini bisa saja dimanfaatkan untuk mendapatkan efek politik.

Jadi, dari kasus SFA vs Pemkot Jambi ini kita bisa belajar bagaimana manajemen isu di era digital. Yang dilakukan oleh SFA ini merupakan pola baru yang bisa dilakukan oleh para aktivis untuk melontarkan isu kepada publik. Ketika Pemuda zaman dulu menggunakan pola demonstrasi untuk menaikkan isu, sedangkan pemuda zaman now menggunakan media sosial untuk menaikkan isu dan menggalang dukungan massa.

Penulis : Wasril Tanjung, S.Pd
(Ketua Forum Pemuda Pelopor Jambi)

Komentar