Pada pemilu 2019, saya barangkali tidak banyak melakukan aktivitas kampanye yang menghabiskan banyak energi untuk berkunjung ke masyarakat. Aktivitas kampanye saya mayoritas dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Tercatat hanya sekali pernah saya berkampanye di hadapan masyarakat, yakni di Rt.46 kel. Kenali Besar Kec. Alam Barajo Kota Jambi. Itupun karena mertua saya sebagai ketua majelis taklim disana, sehingga diberikan kesempatan untuk berkampanye. Selain itu tidak ada. Kecuali saat diamanahkan untuk berbagi inspirasi di berbagai tempat, maka diselipkanlah muatan kampanye.
Meskipun demikian, saya bersyukur karena masih ada yang mempercayai saya untuk menjadi anggota DPRD, yakni sebanyak 1.146 orang. Yang akhirnya karena suara saya masih kurang banyak, hanya selisih 300an suara dengan yang terbanyak, maka yang memilih saya tadi berarti turut serta membantu rekan yang lain di satu partai menduduki kursi DPRD Kota.
1. Pemanfaatan Whatsapp
Beberapa bulan sebelum pemilu, saya sering mengirim pesan whatsapp ke berbagai kontak. Isinya bukan tentang ajakan kampanye. Tapi, berupa ucapan selamat hari raya, motivasi, informasi, dll.. Sebulan sebelum pemilu, barulah dimasukkan muatan kampanye. Perlu saya sampaikan juga bahwa nomor HP yang saya simpan sekitar ribuan lebih nomor handphone. Maka untuk mengirim pesan secara manual sangat terkendala. Maka, saya membeli software untuk membantu memudahkan pengiriman pesan.
2. Tempat kerja sangat mendukung
2. Tempat kerja sangat mendukung
Menurut saya, poin ke-2 ini sangat-sangat membantu. Karena dapat menjangkau banyak calon pemilih, dan juga memudahkan aktivitas promosi. Sehingga adanya satu persepsi bahwa kita seperjuangan dan sekeluarga.
3. Pemberdayaan Komunitas
Beberapa anggota komunitas yang selama ini kenal dengan saya turut serta membantu mempromosikan saya kepada teman-teman dan keluarganya. Terutama mereka yang saat ini berada di kalangan pelajar SMA dan Mahasiswa. Mereka memperkenalkan saya atas background komunitas, bukan partai. Karena mayoritas anak muda antipati dengan partai politik.
4. Spanduk
Saya hanya pesan spanduk 40 buah. Tujuannya untuk mengenalkan kepada wali murid, pelajar, atau siapapun yang pernah kenal dengan saya mengetahui bahwa saya caleg. Dan juga sebagai sarana untuk orang yang mengenal saya mensosialisasikan kepada yang lain.
5. Instagram & Facebook Adsense
Saya sangat meyakini bahwa media sosial adalah kekuatan saya pada pemilu 2019. Maka, saya sangat memaksimalkan pemanfaatannya. Menjelang pemilu 2019, hampir setiap hari saya membuat poster digital untuk dishare di media sosial. Dan, ada beberapa postingan yang saya promosikan di media sosial. Sehingga, postingan tersebut dapat menjangkau pengguna media sosial hingga puluhan ribu orang.
Adapun hal-hal yang menjadi kekurangan saya pada pemilu 2019 adalah sebagai berikut :
1. Tidak ada Teamwork (tim sukses)
Karena dana yang saya miliki pas-pasan, tidak ada persiapan dana untuk menjadi caleg, dan pada masa itu saya sedang butuh dana untuk keperluan lain, sehingga membuat saya berusaha meminimalisir aktivitas yang dapat mengeluarkan dana banyak. Sehingga saya memutuskan untuk tidak membentuk teamwork. Saya hanya meminta bantuan kepada beberapa orang yang ikhlas membantu meskipun minim dana. Yakni, dengan kelompok rutin mingguan.
2. Minim kegiatan kemasyarakatan
Beda halnya dengan caleg lain, hampir setiap minggu ada kegiatan untuk mensosialisasikan program kampanye. Sementara saya tidak ada sama sekali. Kecuali hanya membuat pelatihan editing video, cuma 3 kali, itupun bukan atas nama pribadi sebagai caleg, tetapi atas inisiatif Komunitas Internal partai yang dananya pun tidak ada. Kita hanya berharap dananya dari caleg provinsi atau RI yang rela berinfaq. Artinya, saya benar-benar tidak ada aktivitas terjun ke masyarakat secara khusus. Sehingga saat dievaluasi oleh manajer dapil berapa target yang bakal memilih saya, saya hanya bisa berkata "kemungkinan sekitar 300-500 orang".
3. Melemahnya Aspek Ruhiyah
Saya merasa bahwa energi saya saat pemilu lebih banyak terkuras untuk mengatur siasat pemenangan. Poster digital yang mesti saya buat setiap hari, video kreatif yang mesti saya edit, membaca buku-buku dan artikel-artikel yang berkaitan dengan strategi sukses personal branding dan marketing online, serta belum lagi pekerjaan dari tempat kerja yang banyak, membuat saya menjauh dari aktivitas yang harusnya mesti dikuatkan pada saat itu, yakni aktivitas ruhiyah. Tilawah al-qur'an kadang ditinggal, tahajud juga tidak sesering biasanya, dhuha yang terkadang tidak full dalam seminggu, dan lain-lain, sehingga membuat Allah tidak suka. Padahal di masa nabi dan para sahabat terdahulu, mereka justru lebih kuat ruhiyahnya di saat hendak perang. Sehingga turunlah pertolongan Allah. Maka, saya memaklumi hasil akhir yang saya dapatkan belum maksimal, meskipun hasilnya sudah jauh melampaui target dan dugaan saya. Tapi karena Allah belum rela, maka hasilnya pun tidak sesuai dengan keinginan kita.
Barangkali ini saja yang bisa saya paparkan. Catatan ini semoga bisa menjadi sumber inspirasi bagi para caleg yang akan bertarung di pemilu berikutnya.

Komentar
Posting Komentar