Langsung ke konten utama

3 Pondasi Membangun Dunia Pendidikan (Telaah Q.s Luqman ayat 13-19)




Pendidikan merupakan upaya untuk memanusiakan manusia sehingga mereka dapat hidup sesuai dengan fitrahnya sebagai seorang manusia, yakni sebagai khalifah di bumi ini. Menjadi seorang khalifah berarti menjadi pribadi yang dapat memakmurkan bumi ini dan dapat menjadi rahmat bagi bumi ini. Dengan syarat, apa yang ia lakukan harus sesuai dengan tuntunan dari pemilik bumi ini, yakni Allah swt.


Menjadi seorang khalifah tentu bukanlah hal yang mudah, namun bukan pula merupakan hal yang sulit. Asalkan ia tahu apa yang harus ia lakukan dan bagaimana ia harus melakukannya, maka amanah menjadi seorang khalifah di bumi ini akan dapat ia laksanakan dengan baik. Mau tidak mau, suka tidak suka, manusia sudah ditakdirkan untuk menjadi khalifah di bumi ini. 


“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi...”
(Q.s Faathir [35] : 39)


Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus menjalani amanah dari langit ini dengan maksimal.


Sebagai seorang guru, ia bertanggung jawab untuk mengarahkan anak didiknya agar bisa menjadi seorang khalifah yang diharapkan oleh Allah swt. Banyak konsep pendidikan yang berkembang saat ini yang dapat dijadikan model dalam membangun dunia pendidikan. Namun, yang paling menarik untuk ditelaah oleh penulis adalah bagaimana konsep membangun pendidikan yang tertera di dalam Al-Qur’an. Karena, konsep tersebut dipaparkan langsung oleh sang pemilik bumi ini, yakni Allah swt.


Mari sejenak kita menelaah Q.s Luqman ayat 13

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (Q.s Luqman [31] : 13)


Inti dari ayat di atas adalah perintah untuk bertakwa kepada Allah. Takutlah kepada Allah, jangan abaikan perintahnya. Karena mengabaikan perintah Allah merupakan kesalahan yang sangat-sangat besar. Dalam hal ini, Luqmanul hakim mengawali proses pendidikannya dengan menanamkan keyakinan yang lurus kepada anaknya. Ketika anaknya telah takut kepada Allah, maka ia akan menjadi anak yang selalu merasa adanya pengawasan dari Allah swt.


Ketika seorang anak telah diarahkankan sejak dini tentang adanya pengawasan Allah selama hidup ini, maka ia akan menjadi anak yang takutnya hanya kepada Allah swt. Sehingga, tidak perlu lagi adanya pengawasan dari guru atau orangtua. Karena, telah tertanam di dirinya bahwa Allah selalu mengawasinya. Sehingga, ia akan senantiasa melakukan perintah dari Allah swt. Dan tentunya secara otomatis anak tersebut akan menjadi anak yang senantiasa melakukan kebaikan. 


Pembaca sekalian, ketika aqidah anak telah lurus, keberadaan Allah sudah sangat terasa di dalam dirinya, maka ia akan senantiasa melakukan kebaikan. Baik itu dalam skala besar, maupun dalam skala yang sangat kecil. Dan sebagai guru ataupun orangtua akan lebih mudah untuk mengajaknya melakukan kebaikan-kebaikan. Hal ini merupakan dampak dari takwa kepada Allah. Sebagaimana luqmanul hakim pun menerapkan metode ini kepada anaknya.

(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
(Q.s Luqman [31] : 16)


Pondasi kedua yang dibangun oleh Luqmanul hakim setelah ditanamkan aqidah yang lurus kepada anaknya adalah perintah untuk selalu beribadah, berdakwah dan bersabar. Sebagaimana tertera dalam Q.s Luqman ayat 17 :


“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
(Q.s Luqman [31] : 17)


Banyak anak didik yang mengetahui rukun iman dan rukun islam, namun tidak sedikit anak yang ibadahnya masing belum sempurna. Oleh karena itu, harus adanya arahan yang berkesinambungan kepada anak agar senantiasa beribadah. Tanamkan kepadanya bahwa beribadah merupakan cara agar sang pemilik bumi ini menjadi lebih dekat kepadanya. Sehingga, pertolongan Allah pun akan sangat dekat dirinya. 


Tanamkan juga kepada anak bahwa beribadah tidak hanya berupa sholat, dzikir, puasa, dan sedekah saja. Namun, beribadah memiliki makna yang luas. Berdakwah pun atau mengajak orang lain untuk berbuat baik dan mencegah orang lain untuk berbuat jahat pun termasuk ibadah. Bahkan, sabar terhadap cobaan yang menimpa pun juga termasuk ibadah. Hal ini perlu disampaikan agar mereka paham makna ibadah yang sesungguhnya. Sehingga, setelah ia menjadi anak yang takut kepada Allah, ia akan menjadi anak yang dekat kepada Allah swt. 


Pondasi ketiga yang dibangun oleh Luqmanul hakim setelah aqidah dan ibadah adalah perintah untuk senantiasa berakhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dipaparkan dalam Q.s Luqman ayat 18 -19 :


“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
(Q.s Luqman [31] : 18-19)


Anak yang akhlaknya baik merupakan dampak dari aqidah yang lurus dan ibadah yang rajin. Pada umumnya, anak yang telah terbiasa melaksanakan ibadah dengan baik akan berdampak pada akhlaknya. Sebagai contoh, selama ini penulis mengamati bahwa anak-anak yang sholatnya masih belum ikhlas dan masih tidak terjaga, akhlaknya tidak lebih baik daripada anak yang sholatnya sudah baik. Hal ini membuktikan ayat Allah di bawah ini : 


“...Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar...” (Q.s Al-Ankaabut [29] : 45)


Oleh karena itu, dengan ditanamkannya aqidah yang lurus kepada anak, arahan untuk selalu beribadah, dan senantiasa berakhlak baik dalam kehidupan sehari-hari, akan dapat menghasilkan generasi yang dirindukan kedatangannya oleh penduduk bumi maupun penduduk langit sebagai khalifah di bumi ini. Kita yang berjuang di dunia pendidikan lah yang  berpeluang besar untuk menghadirkan mereka ke pentas kehidupan ini.



Wasril Tanjung, S.Pd

SMP Islam Terpadu Nurul ‘Ilmi Kota Jambi

Komentar

Posting Komentar