Pendidikan merupakan upaya untuk
memanusiakan manusia sehingga mereka dapat hidup sesuai dengan fitrahnya
sebagai seorang manusia, yakni sebagai khalifah di bumi ini. Menjadi seorang
khalifah berarti menjadi pribadi yang dapat memakmurkan bumi ini dan dapat
menjadi rahmat bagi bumi ini. Dengan syarat, apa yang ia lakukan harus sesuai
dengan tuntunan dari pemilik bumi ini, yakni Allah swt.
Menjadi
seorang khalifah tentu bukanlah hal yang mudah, namun bukan pula merupakan hal
yang sulit. Asalkan ia tahu apa yang harus ia lakukan dan bagaimana ia harus
melakukannya, maka amanah menjadi seorang khalifah di bumi ini akan dapat ia
laksanakan dengan baik. Mau tidak mau, suka tidak suka, manusia sudah
ditakdirkan untuk menjadi khalifah di bumi ini.
“Dia-lah
yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi...”
(Q.s Faathir [35] : 39)
(Q.s Faathir [35] : 39)
Oleh karena itu, kita sebagai manusia
harus menjalani amanah dari langit ini dengan maksimal.
Sebagai
seorang guru, ia bertanggung jawab untuk mengarahkan anak didiknya agar bisa
menjadi seorang khalifah yang diharapkan oleh Allah swt. Banyak konsep
pendidikan yang berkembang saat ini yang dapat dijadikan model dalam membangun
dunia pendidikan. Namun, yang paling menarik untuk ditelaah oleh penulis adalah
bagaimana konsep membangun pendidikan yang tertera di dalam Al-Qur’an. Karena,
konsep tersebut dipaparkan langsung oleh sang pemilik bumi ini, yakni Allah
swt.
Mari sejenak kita menelaah Q.s Luqman
ayat 13
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di
waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar." (Q.s Luqman [31] : 13)
Inti dari ayat di atas adalah
perintah untuk bertakwa kepada Allah. Takutlah kepada Allah, jangan abaikan
perintahnya. Karena mengabaikan perintah Allah merupakan kesalahan yang
sangat-sangat besar. Dalam hal ini, Luqmanul hakim mengawali proses
pendidikannya dengan menanamkan keyakinan yang lurus kepada anaknya. Ketika anaknya
telah takut kepada Allah, maka ia akan menjadi anak yang selalu merasa adanya
pengawasan dari Allah swt.
Ketika seorang anak telah
diarahkankan sejak dini tentang adanya pengawasan Allah selama hidup ini, maka
ia akan menjadi anak yang takutnya hanya kepada Allah swt. Sehingga, tidak
perlu lagi adanya pengawasan dari guru atau orangtua. Karena, telah tertanam di
dirinya bahwa Allah selalu mengawasinya. Sehingga, ia akan senantiasa melakukan
perintah dari Allah swt. Dan tentunya secara otomatis anak tersebut akan menjadi
anak yang senantiasa melakukan kebaikan.
Pembaca
sekalian, ketika aqidah anak telah lurus, keberadaan Allah sudah sangat terasa
di dalam dirinya, maka ia akan senantiasa melakukan kebaikan. Baik itu dalam
skala besar, maupun dalam skala yang sangat kecil. Dan sebagai guru ataupun
orangtua akan lebih mudah untuk mengajaknya melakukan kebaikan-kebaikan. Hal
ini merupakan dampak dari takwa kepada Allah. Sebagaimana
luqmanul hakim pun menerapkan metode ini kepada anaknya.
(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada
(sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit
atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).
Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
(Q.s Luqman [31] : 16)
(Q.s Luqman [31] : 16)
Pondasi
kedua yang dibangun oleh Luqmanul hakim setelah ditanamkan aqidah yang lurus
kepada anaknya adalah perintah untuk selalu beribadah, berdakwah dan bersabar. Sebagaimana
tertera dalam Q.s Luqman ayat 17 :
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia)
mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
(Q.s Luqman [31] : 17)
(Q.s Luqman [31] : 17)
Banyak
anak didik yang mengetahui rukun iman dan rukun islam, namun tidak sedikit anak
yang ibadahnya masing belum sempurna. Oleh karena itu, harus adanya arahan yang
berkesinambungan kepada anak agar senantiasa beribadah. Tanamkan kepadanya
bahwa beribadah merupakan cara agar sang pemilik bumi ini menjadi lebih dekat
kepadanya. Sehingga, pertolongan Allah pun akan sangat dekat dirinya.
Tanamkan
juga kepada anak bahwa beribadah tidak hanya berupa sholat, dzikir, puasa, dan
sedekah saja. Namun, beribadah memiliki makna yang luas. Berdakwah pun atau mengajak
orang lain untuk berbuat baik dan mencegah orang lain untuk berbuat jahat pun
termasuk ibadah. Bahkan, sabar terhadap cobaan yang menimpa pun juga termasuk
ibadah. Hal ini perlu disampaikan agar mereka paham makna ibadah yang
sesungguhnya. Sehingga, setelah ia menjadi anak yang takut kepada Allah, ia
akan menjadi anak yang dekat kepada Allah swt.
Pondasi
ketiga yang dibangun oleh Luqmanul hakim setelah aqidah dan ibadah adalah
perintah untuk senantiasa berakhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana dipaparkan dalam Q.s Luqman ayat 18 -19 :
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan
sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.
Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
(Q.s Luqman [31] : 18-19)
(Q.s Luqman [31] : 18-19)
Anak yang akhlaknya baik merupakan dampak dari aqidah yang
lurus dan ibadah yang rajin. Pada umumnya, anak yang telah terbiasa
melaksanakan ibadah dengan baik akan berdampak pada akhlaknya. Sebagai contoh,
selama ini penulis mengamati bahwa anak-anak yang sholatnya masih belum ikhlas
dan masih tidak terjaga, akhlaknya tidak lebih baik daripada anak yang
sholatnya sudah baik. Hal ini membuktikan ayat Allah di bawah ini :
“...Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-
perbuatan) keji dan mungkar...” (Q.s Al-Ankaabut [29] : 45)
Oleh
karena itu, dengan ditanamkannya aqidah yang lurus kepada anak, arahan untuk
selalu beribadah, dan senantiasa berakhlak baik dalam kehidupan sehari-hari,
akan dapat menghasilkan generasi yang dirindukan kedatangannya oleh penduduk
bumi maupun penduduk langit sebagai khalifah di bumi ini. Kita yang berjuang di
dunia pendidikan lah yang berpeluang
besar untuk menghadirkan mereka ke pentas kehidupan ini.
Wasril Tanjung, S.Pd
SMP Islam Terpadu Nurul ‘Ilmi Kota Jambi

tulisan bagus, siip..
BalasHapusTrmksh mas... ^_^
Hapus