Langsung ke konten utama

Behind the scene of FISIKA KESUKSESAN (Part 1)

“Mas, diusahakan minggu ini selesai ya.. langsung dikirim ke jambi. Karena, panitia disini udah mempublikasikan acara bedah bukunya sabtu depan. Ane jadi gak enak kalo pas acara, eh bukunya belum ada.”

“oke sip.. coba cek e-mail antum. Ane kirim lagi naskah bukunya. Coba dicek lagi apa ada yang mau direvisi lagi atau sudah pas? Kalo sudah dicek, kasih tau ane…”

“oke mas.. nanti dicek..”

Huffhh,,, akhirnya mimpi itu sebentar lagi terwujud. Mimpi yang aku tulis di buku catatan berwarna cokelat yang saat ini buku itu sudah hilang. Sebenarnya saya tau sih siapa yang megang. Karena waktu itu beliau yang nemui bukunya yang tertinggal di BAAKPSI UNJA. Tapi, biarlah sebagai kenang-kenangan. Lagian saya nggak berani lagi ambilnya. Karena, impian-impian yang sempat saya tulis ketika ulang tahun saya yang ke-21 pada tahun 2012 kemarin agak “lebay-lebay” sih.. hehe.. ^_^
Nah, salah satu impian yang saya tulis di buku itu adalah MINIMAL HARUS MENULIS 1 BUKU. Haha.. Agak pesimis sih awalnya. Abis, saya udah 20-an kali ikut lomba karya tulis tingkat lokal, daerah, maupun nasional. Tapi nggak ada satupun pernah menjadi sang jawara. Kesel banget dah pokoknya. Dengan modal kalah melulu, tau-tau mimpinya jadi tambah gede’. Mau bikin buku. Jiaaahhhh… #Kselak botol lasegar -,-“

Beberapa hari kemudian… (21 Desember 2013)

“Mam… Imam… ado lihat laptop abang dak?”
“Loh… pagi tadi ado di atas printer sebelum aku ke kamar sebelah”
“Nto.. ado lihat laptop aku dak?”
“Idak.. emang knapo?”
“HILANG!!!”
“Hah? Cubo tanyo didik atau Romi. Mungkin dio yang pinjam”
“Dik.. dirimu pinjam laptop aku yo?”
“Idak.. Napo?”
“Dirimu rom? Ado pinjam dak?”
“Idak jugo.. emang napo?”
“LAPTOP AKU HILANG!!!”
“Haaaahhh??? Masya Allah ril ril.. hilang lagi???”

Aku terdiam, Pasrah, Terkejut, dan bingung apa yang mesti dilakukan. Tatapan mataku terfokus pada sebuah benda, namun pikiranku kosong dan berimajinasi kemana-mana. Semua orang pada waktu itu sibuk kesana-kemari mencari laptopku. Sedangkan aku duduk terdiam membisu dengan pikiran kosong. Aku berusaha untuk tetap tegar seperti karang yang dihempas ombak. Aku tahan emosiku. Aku tahan kemarahanku agar tak mengeluarkan kata-kata yang tak pantas diucapkan oleh muslim. Kuucapkan istighfar berkali-kali dengan suara pelan dalam kesendirianku pada waktu itu sambil berdo’a.

Ya Allah! Ma’afkan aku atas kesalahan yang pernah aku lakukan selama ini sehingga membuat laptopku hilang untuk kesekian kalinya. Ma’afkan aku ya Allah.. Ma’afkan aku yang Allah..

Batinku sangat terpukul pada waktu itu. Betapa tidak? Seluruh file skripsiku belum sempat aku pindahkan ke flashdisk. Sementara, saya sudah melakukan penelitian dan akan sidang skripsi selasa depan. Apa yang harus kuperlihatkan ketika sidang nanti? Apa yang harus kukatakan kepada dewan penguji? Apakah dengan alasan “ma’af pak.. Laptop saya hilang. jadi, saya tidak bisa mempresentasikan apa-apa hari ini”? oh tidak… no.. no.. no.. alangkah mudahnya kalo emang bisa begitu.. Selain itu, slide yang telah saya persiapkan untuk mempresentasikan buku pertama saya di hadapan ratusan peserta bedah buku FISIKA KESUKSESAN belum sempat saya pindahkan ke flashdisk. Beberapa video yang telah saya download jadi hilang semuanya. Astaghfirullah.. cobaan ini tentu datangnya dari Allah.. Dan saya tau Allah punya rencana lain atas hal ini.. Wahai masalah besar, ketahuilah bahwa Allah itu maha besar!

Beberapa hari kemudian… (25 Desember 2013)

“Assalamu’alaikum, apakah ini saudara wasril?”
“Wa’alaikumsalam.. Iya pak.. ada apa ya?”
“Ada 2 kardus paket kiriman dari Jakarta. Ambil ya di loket”
“Oh iya pak.. Terima kasih pak.. nanti saya jemput kesana”

Alhamdulillah… Alhamdulillah… Akhirnya buku pertamaku tiba di jambi. Wah.. wah.. begitu senangnya saya pada waktu itu. Tak sabar lagi pengen melihat wujud aslinya. Tak sabar lagi pengen membuka lembar demi lembar bukunya. Tak sabar lagi pengen foto berdua dengannya. Hehe.. ya wajarlah.. Dulunya Cuma bisa melihat cover bukunya saja yang sempat saya print dengan menggunakan kertas A4 lalu saya tempel di dinding sebagai publikasi awal kalo ada yang datang, eh ternyata sebentar lagi saya akan melihat wujud aslinya. Yang awalnya cuma bisa melihat softcopy-nya saja, sebentar lagi saya bakal menyentuh wujud aslinya. Wah.. wah.. pokoknya senang banget dah.. ibaratnya tu lagi ta’arufan ama salah satu akhwat.. haha.. -,-“ udah! Udah! Bubarrr.. bahaya kalo omongin ini.. -_-

Oke.. kembali ke kisah yang seharusnya dikisahkan..

Sorenya, bukunya pun nyampe.. saya buka salah satu bukunya dan saya baca sampai selesai. Haha.. padahal udah beberapa kali dibaca. Tapi, ada sesuatu yang beda loh ketika telah menjadi buku. Oh.. apakah ini sebagai ganti laptopku yang telah hilang? ya! Pasti ini! Ini adalah rencana Allah.. Alhamdulillah ya Allah.. mimpi yang dulunya tak terbesit di pikiranku bisa untuk diwujudkan, akhirnya terwujudkan hari ini.. Alhamdulillah.. ^_^

6 hari kemudian.. (31 Desember 2013)SIDANG SKRIPSI..

“Ya Allah, permudahkan urusanku pada hari ini… Amin”


Usai tahajud 11 rakaat, saya kembali berkutat di depan laptop. Saya harus kerja ekstra kali ini. Sebab, dampak dari hilangnya laptop saya beberapa hari yang lalu, terpaksa saya mengetik ulang skripsi saya yang jumlah halamannya 169 lembar kertas kwarto. Kalo jari saya punya emosi, mungkin udah nampar-nampar muka saya saat ini. Hufh..

Azan subuh pun menggema, saya pun istirahat sebentar dari aktivitas persiapan perangku dengan para penguji nanti. Usai sholat, ku berdo’a semoga diberikan kemudahan nantinya. Amin.. kemudian, kembali berkutat di depan laptop dan printer. Di depanku berserakan kertas kwarto. Hanya seekor kucing yang setia menemani di pagi itu. Terkadang saya tersenyum melihat tingkah kucing yang tiba-tiba menarik kertas yang keluar dari printer. Kadang-kadang ia melompat lalu guling-guling kesenangan. Hufh.. ada-ada aja tuh kucing.. imajinasinya tinggi banget.. padahal ia kan tak punya pikiran. Tapi saya jadi mendapatkan sebuah teori setelah melihat kucing tersebut bahwasanya imajinasi itu muncul terkadang tak perlu dari akal yang normal.. Hm.. iya gak ya? Pokoknya itu deh hasil penelitian singkat saya di pagi itu.. ^_^

Setelah siap semuanya, saya bersiap ke kampus membawa 1 tas penuh berisi skripsi yang tebalnya setebal bantal. Sesampai di kampus, langsung kuhubungi temanku yang membantu mempersiapkan konsumsi untuk para penguji yang akan “membantaiku” hari ini. Dosen pengujiku ada 3 orang dan masing-masing mereka ahli di bidang materi fisika teori dan praktek, metodologi penelitian dan kepenulisan. Wah.. bakal dibantai habis-habisan nih.. -_-

Kulihat di ruang tunggu mahasiswa, ternyata tak hanya temanku yang mengurusi konsumsi yang datang ketika saya ujian skripsi. Teman-teman selokal lainnya banyak juga yang datang sekitar 20-an orang. Terima kasih ya friends… ^_^

Aku pun masuk ke ruangan sidang dengan wajah biasa. Ya.. biasanya wajahnya juga gitu koq. Sumpah!! -_- Pada hari itu, aku menggunakan laptop orang lain untuk mempresentasikan hasil penelitianku. Pinjem beberapa jam. Sebagai tebusannya, ntar udah ujian saya bawak’in kacang garuda dan beberapa butir permen kopiko untuknya.. hehehe… ^_^

Sebelum presentasi dimulai, kalimat awal yang saya ucapkan adalah :

“Ma’af bapak dan ibuk sekalian. Ada beberapa gambar yang terlihat kurang jelas di draf yang saya berikan. Karena laptop saya hilang. Jadi, satu-satunya cara agar gambar itu tetap ada di draf yang lain adalah dengan meng_scan draf yang sempat saya print sebelum laptop saya hilang. Dan jika ada tulisan yang salah ketik di draf saya, saya mohon ma’af juga. Karena, akibat dari hilangnya laptop saya, saya harus mengetik ulang isi skripsinya..”

Setelah itu, saya pun mulai mempresentasikan hasil penelitian saya..

2,5 jam berlalu.. (9:03 s/d 11:45 wib)

Saya keluar dari ruang persidangan dengan wajah murung. Teman saya yang berada di luar sambil menunggu saya selesai dibantai langsung bertanya banyak hal kepada saya secara bertubi-tubi. “Ada apa ril? Kenapa ril? Pertanyannya sulit ya? Gimana hasilnya? Apa pertanyaan yang paling sulit? Apa aja yang ditanya? Lulus gak? Dan lala lala deh pertanyaannya.. tapi saya berusaha menenangkan diri terlebih dahulu. Wajahku tampak pucat, cemas, dan sangat khawatir jika hasil akhirnya saya tak lulus. Apa yang mesti kukatakan pada orang tuaku? Betapa tidak, pertanyaan yang diajukan kepadaku kebanyakan merupakan hal-hal yang baru kudengar. Aku merasa kewalahan dengan pertanyaan yang diberikan. Semua pertanyaan kucoba jawab, tapi penguji selalu mengatakan “benar kayak gitu ya? coba cek lagi nanti”. Nah, kalimat itu sungguh membuatku bimbang. Ini jawaban saya benar apa salah ya? Koq dijawab gitu semua. Inilah yang membuat saya menjadi cemas mintak ampun.. tunggu hasilnya saja lah.. kalo ngulang, saya siap untuk ngulang ujian lagi..  insya Allah..

Beberapa menit kemudian…

“Kepada saudara wasril, silahkan masuk ke ruangan sidang” ucap ketua penguji
Saya pun masuk kembali ke ruangan sidang dengan perasaan yang tak menentu. Saya melihat ketua penguji sedang memegang sebuah kertas yang saya yakini itu adalah nilai ujianku. Semua mata penguji tertuju kepadaku. Saya melihat di balik kaca, teman-temanku di luar juga sedang melihat ke dalam ruangan sidang dan berusaha mendengar apa yang diucapkan oleh ketua penguji.

“Saudara Wasril.. anda adalah aktivis BEM ya?” ucap ketua penguji

Hah?! Koq bapak penguji menanyakan hal lain kepadaku? Pertanda apakah ini? Apakah gara-gara saya pernah unjuk rasa terkait kasus PGMIPA-BI? Saya ingat kasus ini. Kasus yang mengakibatkan ketua pengelolanya diganti dengan pengelola yang baru lalu kasus tersebut kami laporkan ke pihak penyidik yang akhirnya media massa memberitakan bahwa “BEM melaporkan dosen UNJA ke penyidik”. Setelah berita tersebut tersiar, beberapa dosen ada yang mogok ngajar di kelas PGMIPABI. Oh tidak.. ini pertanda buruk.. Selamatkan hamba ya Allah.. Apa yang harus kujawab jika ketua penguji tiba-tiba menanyakan kasus itu kepadaku? Apakah kelulusan saya hari ini terhambat oleh kasus itu?

Bersambung…

Komentar